Kamis, 31 Januari 2019

Makalah Sosiologi " KETERTIBAN SOSIAL DAN PENGADILAN SOSIAL"


MAKALAH SOSIOLOGI
KETERTIBAN SOSIAL 
DAN 
PENGENDALIAN SOSIAL



Dosen
Yanto Heriyanto S.SOS M.Si.

Disusun Oleh
KELOMPOK 2


Canisia Sri Kurniawati 118090116
Nur Adiyaati Pratiwi 119080123



Sanyla Alex Sandra 118090132
Chandra Alimjo 118090154


Kelas : Administrasi Negara 1 – F

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon
Tahun Ajaran
2018 – 2019

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena hanya dengan berkat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tugas sosiologi tentang “ KETERTIBAN SOSIAL DAN PENGANDILAN SOSIAL”
Tak lupa shalawat serta salam semoga dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW Keluarganya para sahabatnya dan umatnya yang senantiasa selalu istiqomah sampai akhir zaman. Kami mengucapkan terimakasih kepada Bpk. Yanto Heryanto S.SOS M.Si selaku dosen Sosiologi dan Kebudayaan Cirebon. Kami juga mengucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan mendukung atas terselesaikannya tugas makalah ini.
Kami menyusun makalah ini dengan sungguh-sungguh dan semampu kami.
Kami berharap dengan adanya makalah ini bisa menjadi pembelajaran yang bisa dipahami dan bisa menjadi ilmu yang bermanfaat untuk siapapun yang membacanya. Makalah ini dibuat sebagai salah satu tugas sosiologi dimana sebagai pengetahuan mengenai ketertiban sosial yang bisa kita ketahui dan pengendalian sosial atau penyimpangan yang terjadi di sekitar lingkup sekitar kita. Akhir kata, manusia tidak ada yang sempurna, begitu pula dengan makalah ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu kami membutuhkan saran dan kritik yang membangun untuk koreksi makalah ini dan sebagai pembelajaran untuk pembuatan makalah selanjutnya.
Terimakasih, wassalamualaikum wr.wb

Daftar isi
Halaman Judul
Kata pengantar.................................................................................................................... i
Daftar isi............................................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang............................................................................................................ 1
1.2  Rumusan Masalah....................................................................................................... 2
1.3  Tujuan ......................................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN
2.1KETERTIBAN SOSIAL.............................................................................................. 3
2.2PENGENDALIAN SOSIAL........................................................................................ 6 
A. Tujuan Pengendalian Sosial...........................................................................................
B.Pola Pengendalian Sosial.................................................................................................
C. Fungsi Pengendalian Sosial............................................................................................
D.Sifat -Sifat Pengendalian Sosial......................................................................................
E.Jenis-Jenis Pengendalian Sosial.......................................................................................
2.3PENYIMPANGAN SOSIAL..................................................................................... 21

BAB III PENUTUP
Kesimpulan...................................................................................................................... 25
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................... 26





BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang

Sosialisasi adalah sebuah proes penenaman atau transfer kebiasaan atau nilai dan aturan dari satu generasi ke genarasi lainya dalam sebuah kelompok atau masyarakat. Sejumlah sosilog menyebut sosialisasi sebagai teori mengenai peranan (role theory). Karena dalam proses sosialisasi diajarkan peran-peran yang harus dijalankan oleh individu. Namun pada realita saat ini tidak sedikit para pelaku sosial yang telah menyimpang dari aturan norma sosial di setiap letaknya. Maka kali ini saya sebagai pemakalah akan membahas mengenai ketertiban, kontrol, dan penyimpangan sosial serta di ikuti dengan contoh kasusnya.
Pengendalian sosial adalah suatu mekanisme untuk mencegah penyimpangan sosial serta mengajak dan mengarahkan masyarakat untuk berperilaku dan bersikap sesuai norma dan nilai yang berlaku. Dengan adanya pengendalian sosial yang baik diharapkan mampu meluruskan anggota masyarakat yang berperilaku menyimpang/membangkang.
Telah dijelaskan bahwa pengendalian sosial terjadi karena adanya perilaku yang menyimpang. Jadi, pengendalian sosial sangat berperan penting bagi kehidupan kita masing-masing. Oleh karena itu, pengendalian sosial pun memiliki fungsi dan tujuan. Sebagai pelajar ataupun masyarakat publik juga dapat memahami ciri-ciri pengendalian sosial,macam-macam,bentuk-bentuk, serta lembaga pengendalian sosial.
Jika tak ada penerapan pengendalian sosial bagi pelajar maupun masyarakat publik tentunya negara kita cenderung drastis meningkatkan perilaku yang menyimpang yang bersifat negatif. Dari sisi negatif tersebut itulah yang akan membuat generasi penerus banga rusak atau tidak stabil karena perilaku yang menyimpang tersebut. Jadi kita harus memahami pengendalian sosial.


1.2  Rumusan masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan ketertiban sosial?
2.      Apa yang dimaksud pengendalian sosial?
3.      Apa sajakah penyimpangan sosial ?

1.3 Tujuan
1.      Untuk mengetahui maksud dari ketertiban sosial
2.      Untuk mengetahui maksud dari pengendalian sosial
3.      Untuk memahami apa saja penyimpangan sosial


BAB II
PEMBAHASAN

2.1  KETERTIBAN SOSIAL

          Ketertiban sosial (social order) tercipta bilamana kegiatan biasa orang berlangsung dengan menyenangkan dan dapat di ramalkan pada masyarakat sederhana, sosialisasi menciptakan ketertiban sosial dengan cara mempersiapkan orang agar bersedia berperilaku sebagaimana yang diharapkan, dan tekanan sosial (social preassure) memberikan imbalan berupa penerimaan dan pengakuan bilamana orang yang berperilaku seperti yang diharapkan.
Ketertiban sosial adalah Sistem kemasyarakatan, hubungan,dan kebiasaan yang berlangsung secara lancar demi mencapai sasaran masyarakat . Jika orang tidak menyadari apa yang bisa mereka harapkan dari orang lain, maka apa yang diperoleh berupa sedikit. Ketertiban masyarakat tergantung dari jaringan peran dimana setiap orang melakukan setiap kewajiban dan menerima haknya.

Terdapat empat unsur keteraturan sosial. Terpenuhinya keempat unsur tersebut berarti terciptanya keteraturan dalam masyarakat. Berikut empat poin dan contohnya:
Unsur-unsur ketertiban sosial
1.      Tertib sosial
Tertib sosial adalah keadaan masyarakat dengan kehidupan tertib dan teratur sebagai hasil dari interaksi sosial yang berjalan harmonis. Sebagai contoh, seorang pendatang melapor kepada ketua RT setempat sebelum keliling kampung meminta sumbangan pembangunan masjid. Seorang pengendara mematikan motor ketika masuk gang kecil saat jam belajar masyarakat.
Ciri-ciri terciptanya tertib social antara lain:
-          Terjadi suatu sistem dan norma yang jelas
-          Masing-masing individu mengetahui dan memahami norma dan nilai yang berlaku
-          Masing-masing individu dapat menyesuaikan tindakannya dengan norma dan nilai sosial yang berlaku.
Contoh: Tertib di jalan raya setiap pengendara memahami dan menyesuaikan tindakannya dengan norma dan nilai yang berlaku di jalan raya.

2.      Order
Order adalah sistem nilai dan norma yang berlaku dan dipatuhi oleh seluruh anggota masyarakat. Sebagai contoh, masyarakat desa yang melakukan kerja bakti membersihkan got atau selokan di kampungnya. Contoh lain, warga kampung yang bergotong royong mengecat gapura dalam perayaan 17-an.
3.      Keajegan
Keajegan adalah keteraturan sosial yang reguler atau rutin sebagai hasil dari interaksi sosial yang mengalami pelembagaan. Sebagai contoh, seorang anak yang rutin pergi ke sekolah untuk belajar. Seorang pegawai yang rutin pergi ke kantor untuk melayani masyarakat. Sekolah adalah lembaga pendidikan dan kantor pegawai adalah lembaga pemerintahan.
4.      Pola
Pola adalah corak hubungan sosial yang tetap dalam kehidupan masyarakat. Sebagai contoh, santri yang cium tangan ketika bertemu kyai. Meski tidak di pesantren, saat bertemu kyai-nya, para santri cium tangan sebagai penghormatan kepadanya. Corak tersebut merupakan pola hubungan antara kyai dan santri.
Apabila keempat unsur tersebut berjalan secara berkesinambungan, maka akan tercipta ketertiban sosial. Memahami unsur-unsur yang sudah disebutkan di atas dapat membantu kita menjelaskan apa itu ketertiban sosial serta contohnya di masyarakat.
Kesimpulannya :
1.      Keteraturan sosial merupakan kondisi dinamis dari suatu masyarakat, di mana sendi-sendi kehidupan bermasyarakat berjalan secara tertib dan teratur sehingga tujuan kehidupan bermasyarakat dapat dicapai secara berdaya guna dan berhasil guna.
2.       Kondisi dinamis adalah suatu kondisi masyarakat yang sedemikian rupa tertib dan teraturnya, sehingga mampu menangkal segala bentuk ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan (ATHG), baik yang berasal dari dalam maupun dari luar lingkungan masyarakatnya.
3.      Kondisi dinamis terwujud sebagai akibat adanya suatu sistem pengendalian sosiai atau kontrol sosial yang didasari oleh seperangkat sistem nilai dan norma sosial yang disepakati dan ditaati oleh seluruh anggota masyarakat secara konsekuen.

Faktor-faktor yang mendorong dan menghambat pola keteraturan sosial
1. Faktor Pendorong
a. Kerja Sama
b. Akomodasi
2. Faktor Penghambat
a. Persaingan
b. Kontravensi
c. Konflik

2.2  PENGENDALIAN SOSIAL

Para ahli sosiolog menggunakan istilah “Pengendalian Sosial (pengawasan sosial)”  yaitu segenap cara dan proses yang ditempuh oleh sekelompok orang  atau masyarakat sehingga para anggotanya dapat bertindak sesuai dengan yang harapan kelompok  atau masyarakat tersebut.

Perlu diketahui bahwa setiap masyarakat menginginkan kehidupan yang tentram, damai, dan teratur. Dengan itulah masyarakat perlu suatu sistem untuk mengatur semua perilaku yang menjadi tujuan tersebut. Dalam hal ini, masyarakat perlu ada pengendalian sosial. Sebelum berbicara jauh tentang pengendalian sosial, alangkah baiknya kita paparkan pengertian pengendalian sosial secara sekilas. Pengendalian sosial sering diartikan sebagai proses pengawasan dari suatu kelompok terhadap kelompok lain dan mengajarkan, membujuk, atau memaksa individu maupun kelompok sebagai bagian dari masyarakat untuk berperilaku sesuai dengan harapan masyarakat.
Berikut pengertian pengendalian sosial menurut para ahli, antara lain :
1.      Peter L Berger 
Pengendalian sosial adalah berbagai cara yang digunakan masyarakat untuk menertibkan anggotanya yang menyimpang
2.      Joseph Stabey Roucek
Pengendalian sosial adalah suatu istilah kolektif yang mengacu pada proses terencana yang didalamnya individu diajarkan, dibujuk, ataupun dipaksa untuk menyesuaikan diri pada kebiasaan dan nilai hidup kelompok.
3.      Horton dan Hunt
Pengendalian sosial adalah segenap cara dan proses yang ditempuh oleh sekelompok orang tua atau masyarakat sehingga para anggotanya dapat bertindak sesuai harapan kelompok atau masyarakat.
4.       Bruce J Cohen
Pengendalian sosial adalah cara-cara atau metode yang digunakan untuk mendorong seseorang agar berperilaku selaras dengan kehendak-kehendak kelompok atau masyarakat tertentu.
                                                 
A.Tujuan Pengendalian Sosial
Sangat perlu diketahui bahwa pengendalian sosial memiliki beberapa, antara lain sebagai berikut:
1.    Agar masyarakat mematuhi nilai dan norma sosial yang berlaku.
Pengendalian sosial diciptakan oleh masyarakat menitikberatkan pada orang yang melakukan penyimpangan terhadap nilai dan norma sehingga memaksa pelaku penyimpangan untuk patuh terhadap nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat.

2.    Agar tercipta keserasian dan kenyamanan dalam masyarakat.
Pengendalian sosial juga mampu menciptakan situasi yang tentram dalam masyarakat apabila pengendalian sosialnya benar-benar dijalankan. Dengan adanya pengendalian sosial, biasanya pelaku penyimpangan sosial akan jera bahkan takut akan berbuat sesuatu yang tidak diinginkan oleh masyarakat.

3.    Agar pelaku penyimpangan kembali mematuhi norma yang berlaku.
Adanya pengendalian sosial dalam masyarakat diharapkan masyarakat mampu menjalankan seluruh nilai dan norma yang tertulis maupun tidak tertulis. Apabila terdapat penyimpangan terhadap nilai dan norma maka akan diberi sanksi. Contohnya, ketika sesorang telah melanggar aturan yang berlaku, ia diberi sanksi (pengendalian sosial) agar kedepannya ia tidak akan mengulangi atau akan taat pada aturan yang ada.
4.Untuk menjaga ketertiban sosial.
Pengendalian sosial memiliki tujuan agar dapat menjaga ketertiban sosial yang ada di dalam lingkungan masyarakat. Bila nilai serta norma sosial tersebut dijalankan oleh semua anggota masyarakat, maka tentu saja akan tercipta dan terpelihara ketertiban sosial di dalam masyarakat. Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk bisa menanamkan nilai serta norma sosial di dalam masyarakat dengan melalui lembaga-lembaga pendidikan dan lingkungan keluarga. Melalui hal tersebut tentu saja anak-anak akan diarahkan agar dapat meyakini nilai-nilai serta norma sosial yang berlaku di masyarakat.

Dengan adanya pengendalian sosial di dalam masyarakat, maka seseorang ataupun kelompok akan mulai berpikir bahayanya jika melakukan hal-hal yang menyimpang dari norma dan nilai sosial. Sehingga masyarakat akan berusaha untuk menghindari perilaku menyimpang karena akan adanya sanksi sanksi sosial yang bisa didapatkannya. Hal ini lah yang kemudian mencegah banyaknya kasus perilaku menyimpang dari nilai dan norma sosial di lingkungan masyarakat.


B.    Pola Pengendalian Sosial

Dalam masyarakat terdapat empat pola pengendalian sosial, yaitu pengendalian kelompok terhadap kelompok, pengendalian kelompok terhadap anggota-anggotanya, dan pengendalian individu terhadap individu lainnya dan pengendalian individu terhadap kelompok

1.   Pengendalian kelompok terhadap kelompok
Pengendalian ini terjadi apabila suatu kelompok mengawasi perilaku kelompok lain, misalnya BNN mengawasi kelompok pengguna narkoba.

2.   Pengendalian kelompok terhadap anggota-anggotanya
Pengendalian ini terjadi apabila suatu kelompok menentukan perilaku anggota-anggotanya, misalnya suatu sekolah yang mencatat siswa-siswanya yang telah melanggar aturan sekolah.

3.   Pengendalian individu terhadap kelompok
Pengendalian ini terjadi apabila seseorang menginginkan kelompok tersebut sesuai dengan keinginannya maupun masyarakat. Misalnya Wali kelas yang mengawasi anak didiknya setiap hari. 
4.   Pengendalian individu terhadap individu lainnya
Pengendalian ini terjadi apabila individu melakukan pengawasan terhadap individu lain, misalnya ayah mengawasi anaknya. 

c.    Fungsi Pengendalian Sosial
Para pelaku penyimpangan selalu bertanya, buat apa diciptakan pengendalian sosial? karena bagi mereka hal ini hanya membuat mereka terkekang untuk melakukan tindakan pelanggaran terhadap nilai dan norma. Untuk itu, perlu dikatahui bahwa terdapat beberapa fungsi diantaranyaa :
1.Mempertebal keyakinan masyarakat tentang kebaikan norma
Mempertebal keyakinan dapat ditempuh melalui pendidikan, sugesti sosial, menonjolkan kelebihan-kelebihan norma tertentu dibandingkan dengan norma masyarakat lain, serta peran agama. Usaha ini dapat ditempuh melalui pendidikan baik formal maupun non formal. Melalui pendidikan formal ditanamkan kepada peserta didik kesadaran untuk patuh aturan, sadar hukum dan sebagainya melalui mata pelajaran-mata pelajaran yang ada. Melalui pendidikan non formal, media massa dan alat-alat komunikasi menyadarkan warga masyarakat untuk beretika, tertib berlalu lintas, dan sebagainya. Hal ini dapat juga dilakukan dengan cara memengaruhi alam pikiran seseorang dengan legenda, hikayat-hikayat, cerita-cerita rakyat maupun cerita-cerita agama yang memiliki nilai-nilai terpuji, contohnya cerita Malin Kundang, cerita Nabi Sulaiman, dan sebagainya.

2.Memberikan imbalan kepada warga yang menaati normaHal ini bertujuan menumbuhkan semangat dalam diri orang-orang yang berbuat baik agar mereka tetap melakukan perbuatan baik dan menjadi contoh bagi warga yang lain.
3.Mengembangkan rasa malu
Seseorang yang melakukan kesalahan dengan melanggar norma sosial biasanya akan mengalamipenurunan harga diri di mata warga. Sifat demikian menimbulkan kesadaran dalam diri seseorang bahwa perbuatannya akan mendatangkan malu.





D.       Sifat Pengandalian Sosial

Ada dua macam sifat pengendalian sosial yakni :

1.  Bersifat Preventif
Pengendalian bersifat preventif  adalah tindakan yang dilakukan untuk mencegah (pencegahan) terhadap kemungkinan terjadinya pelanggaran-pelanggaran terhadap norma-norma sosial. Jadi tindakan ini dilakukan sebelum terjadinya penyimpangan. Orang yang melakukan pengendalian sosial ini adalah orang mengetahui tentang nilai dan norma, selanjutnya ia sosialisasikan atau bentuk penyuluhan kepada orang yang belum medapatkan informasi tentang nilai dan norma lama maupun yang baru. Contoh : guru (waka kesiswaan) menasehati calon siswa baru tentang nilai dan norma yang berlaku di sekolah tersebut agar kedepannya siswa baru tidak melanggarnya.
Contoh :
-Polisi lalu lintas mengingatkan pengendara mobil yang menerobos lampu merah.
-Seorang ibu mengingatkan putrinya agar tidak pulang larut malam karena berbahaya bagi keselamatannya.
-Guru menegur siswa yang tidak mengerjakan tugas-tugas kurikuler.

2.  Bersifat Represif
Pengendalian sosial yang bersifat refresif adalah pengendalian yang bertujuan untuk mengembalikan keserasian yang pernah terganggu karena terjadinya suatu pelanggaran dengan cara memberikan sanksi sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan. Pengendalian ini dilakukan setelah terjadinya penyimpangan agar pelaku tidak lagi mengulangi perbuatannya dan mentaati nilai dan norma yang berlaku di masyarakat. Contoh : Waka Kesiswaan (guru) menghukum siswa yang terlambat datang ke sekolah.






E. Jenis- Jenis Pengendalian Sosial
A. Pengendalian Gabungan 
Jenis pengendalian sosial yang merupakan kombinasi preventif dan represif, pengendalian sosial ini dilakukan dengan tujuan agar dapat mencegah perilaku penyimpangan terjadi serta sekaligus memulihkan kondisi agar dapat normal kembali seperti sebelumnya. Misalnya saja, operasi yustisi yang mana dilakukan kepada seluruh anggota masyarakat, diadakan penyuluhan kepada masyarakat mengenai pentingnya kepemilikan Kartu Tanda Penduduk, dan lainnya.

B.Pengendalian Persuasif
Jenis pengendalian sosial yang mana dilakukan dengan cara ajakan, arahan, himbauan, serta bimbingan kepada seluruh masyarakat agar dapat melaksanakan hal-hal yang sifatnya positif. Misalnya adanya himbauan kepada orang-orang yang ada di dalam rumah sakit untuk tidak merokok. Biasanya hal ini menggunakan kalimat-kalimat dengan notasi halus namun sifatnya adalah untuk menghimbau.

C.Pengendalian Koersif
Jenis pengendalian sosial yang mana dilakukan dengan cara ancaman serta kekerasan. Misalnya pengendalian sosial mengenai pembajakan film-film yang sangat sulit untuk diberantas sehingga terdapat kalimat-kalimat yang bersifat mengancam di dalam pengendalian koersif ini semisal “Dilarang keras untuk mengutip, menjiplak, memfotokopi, ataupun memperbanyak di dalam bentuk apapun, baik itu sebagian ataupun keselutuhan dari isi film tanpa adanya izin dari pihak penerbit”.


E. Proses Pengendalian Sosial

1.      Secara Persuasif 
      Pengendalian sosial secara persuasif dilakukan dengan cara lemah-lembut, membimbing atau mengajak individu untuk mematuhi atau berperilaku sesuai dengan kaidah-kaidah dalam masyarakat bukan dengan cara kekerasan. Dengan kata lain, ketika seseorang telah melakukan penyimpangan maka sanksi yang diberikan adalah dengan rehabilitasi, dinasehati, atau diajak untuk melakukan yang bermanfaat. Akan tetapi tidak semua penyimpangan mampu diselesaikan dengan cara ini, karena setiap penyimpangan memiliki cara tersendiri untuk membuat pelaku akan kembali ke nilai dan norma yang berlaku.
2.      Secara Koersif
Ada kalanya pengendalian sosial dengan cara koersif, artinya pengendalian sosial secara koersif dilakukan dengan kekerasan atau paksaan. Karena penyimpangan yang telah berulang-ulang kali atau yang telah merugikan orang banyak hendaknya dilakukan dengan paksaan.

Pengendalian sosial dengan kekerasan dibedakan menjadi dua:

1.Kompulsi (paksaan), artinya keadaan yang sengaja diciptakan sehingga seseorang terpaksa menuruti atau mengubah sifatnya dan menghasilkan suatu kepatuhan yang sifatnya tidak langsung. Contoh: diberlakukannya sanksi skorsing bagi siswa yang banyak melanggar aturan sekolah.

2.Pervasi (pengisian), secara pengertian pervasi merupakan cara penanaman atau pengenalan norma secara berulang-ulang sehingga orang akan mengubah sikapnya sesuai dengan yang diinginkan. Contoh: pecandu narkoba dipaksa untuk berhenti dan diberi penyuluhan berulang-ulang tentang bahaya narkoba.





F.Cara-cara Pengendalian Sosial

Secara umum pengendalian sosial dapat dibedakan dengan dua cara yaitu :

1.Pengendalian Sosial secara Formal :

-Pengendalian sosial melalui hukuman fisik
Pengendalian sosial cara ini dilakukan oleh lembaga-lembaga resmi atau yang diakui keberadaannya. Contohnya penembakan pelaku teroris yang menyerang aparat kepolisian.


-Pengendalian sosial melalui lembaga pendidikan
Pendidikan merupakan pengendalian sosial secara terencana dan berkesinambungan agar terjadi perubahan-perubahan positif dalam perilaku seseorang. Dengan hal itu, diharapkan perilaku tersebut tidak menyimpang dari norma-norma dan nilai-nilai sosial yang berlaku di masyarakat.

-Pengendalian sosial melalui ajaran agama
Setiap pemeluk agama akan berusaha sedapat mungkin menjalankan ajaran agamanya tersebut dalam tingkah lakunya sehari-hari. Ajaran agama mempunyai sanksi mutlak. Hal ini membuat ajaran agama sebagai media pengendalian sosial yang cukup besar pengaruhnya dalam menjaga stabilitas masyarakat.


2.Pengendalian Sosial secara Informal :

Sedangkan pengendalian sosial secara informal dapat dilakukan melalui enam cara :

1.Cemoohan
Cemoohan adalah tindakan membicarakan seseorang dengan menggunakan kata-kata kiasan, perumpamaan, atau kata-kata yang berlebihan serta bermakna negatif.

2.Desas-desus (gosip)
Desas-desus adalah berita yang menyebar secara cepat dan tidak berdasarkan fakta atau bukti-bukti kuat.



3.Ostrasisme (pengucilan)
Ostrasisme adalah suatu tindakan pemutusan hubungan sosial dari sekelompok orang terhadap seorang anggota masyarakat.

4.Fraundulens
Fraundulens merupakan bentuk pengendalian sosial yang umumnya terdapa pada anak kecil. Misalnya, A bertengkar dengan B. Jika si A lebih kecil dari B, maka si A mengancam bahwa dia mempunyai kakak yang berani yang dapat mengalahkan B.

5.Teguran
Teguran merupakan cara pengendalian sosial melalui perkataan atau tulisan secara langsung. Teguran dilakukan agar pelaku perilaku menyimpang segera menyadari kekeliruannya dan memperbaiki dirinya.

6.Intimidasi
Intimidasi merupakan cara pengendalian sosial yang dilakukan dengan paksaan, biasanya dengan cara mengancam atau menakut-nakuti. Aparat penegak hukum sering menggunakan cara ini untuk mengorek keterangan dari orang yang dimintai keterangannya.














F.Cara- Cara Pengendalian Sosial Yang Biasa Dilakukan Di Masyarakat

1.     Cara Pengendalian sosial melalui sosialisasi
Sosialisasi adalah pengendalian sosial yang dilakukan dengan menciptakan kebiasaan-kebiasaan , menanamkan norma dan nilai sejak dini. Jika nilai dan norma sosial sudah menginternal dalamdiri maka individu akan berperilaku sesuai keinginan masyarakat.

2.     Cara Pengendalian sosial melalui tekanan sosial
Merupakan pengendalian sosial yang dipakai oleh masyarakat untuk mengendalikan tingkah laku anggota masyarakat agar berperilaku sama dengan masyarakat dimana individu hidup. Paksaan bisa berupa ejekan,ditertawakan atau diperbincangkan secara terus menerus. Kebutuhan manusia akan penerimaan kelompok merupakan alat penunjang yang paling hebat yang dapat dipakai untuk menerapkan keinginan kelompok demi pengejawantahan norma-norma kelompok.Anggota baru suatu kelonpok lebih berhati-hati dalam menyesuaikan diri dan jauh lebih setia daripada anggota lama.

-Pengendalian kelompok dibedakan sebagai berikut:

a.Pengendalian kelompok yang informal primer
Kelompok yang kecil, akrab, dan bersifat informal.Pengendalian dalam kelompok primer terjadi secara informal, spontan, dan tanpa direncenakan. Kelompok bertanggung jawab atas perbuatan anggotanya. Cara pemberian sanksi secara kolektif, contoh ; prajurit yang keteledorannya menyebabkan seluruh anggota kelompok tidak dapat menikmati libur akhir pekan tidak mungkin akan melakukan hal yang sama dan diperkenankan untuk melupakan perbuatannya.

b.Pengendalian kelompok sekunder
Kelompok sekunder pada umumnya lebih besar, lebih impersonal, dan mempunyai tujuan yang khusus. Kita tidak menggunakan kelompok ini untuk memenuhi kebutuhan kita akan hubungan yang intim dan manusiawi. Pengendalian social secara formal seperti peraturan resmi, tata cara yang distandarisasi, propaganda, hubungan masyarakat, rekayasa manusia, kenaikan golongan, pemberian gelar,imbalan, hukuman formal dll. Misalnya siswa yang berprestasi akan diberi hadiah oleh pihak sekolah, atau siswa yang melanggar peraturan akan dikenai hukuman.




G.Jenis-jenis Lembaga Pengendalian Sosial

Perlu diketahui oleh masyarakat bahwa lembaga pengendalian sosial dalam masyarakat tidak hanya di Kepolisian. Masih banyak lagi lembaga pengendalian sosial di masyarakat bisa menyelesaikan beberapa masalah penyimpangan atau pelanggaran baik di lembaga formal maupun non-formal seperti :

1.Lembaga kepolisian 
Polisi merupakan aparat resmi pemerintah untuk menertibkan keamanan. Tugas-tugas  polisi, antara lain memelihara ketertiban masyarakat, menjaga dan menahan setiap anggota masyarakat yang dituduh dan dicurigai melakukan kejahatan yang meresahkan masyarakat, misalnya pencuri, perampok dan pembunuh. 
2.Pengadilan
Pengadilan lembaga resmi yang dibentuk pemerintah untuk menangani perselisihan atau pelanggaran kaidah di dalam masyarakat. Pengadilan memiliki unsur-unsur yang saling berhubungan satu sama lain. Unsur-nsur yang saling berhubungan dengan pengadilan adalah hakim, jaksa dan pengacara. Dalam proses persidangan, jaksa bertugas menuntut pelaku untuk dijatuhi hukuman sesuai peraturan yanag berlaku. Hakim bertugas menetapkan dan menjatuhkan putusan berdasarkan data dan keterangan resmi yang diungkapkan di persidangan. Pengacara atau pembela bertugas mendampingi pelaku dalam memberikan pembelaan. 
3.Tokoh adat
Tokoh adat adalah pihak yang berperan menegakkan aturan adat. Peranan tokoh adat adalah sangat penting dalam pengendalian sosial. Tokoh adat berperan dalam membina dan mengendalikan sikap dan tingkah laku warga masyarakat agar sesuai dengan ketentuan adat.
4.Tokoh agama
Tokoh agama adalah orang yang memiliki pemahaman luas tentang agama dan menjalankan pengaruhnya sesuai dengan pemahaman tersebut. Pengendalian yang dilakukan tokoh agama terutama ditujukan untuk menentang perbuatan yang tidak sesuai dengan nilai dan norma agama.
5.Tokoh masyarakat
Tokoh masyarakat adalah setiap orang yang memiliki pengaruh besar, dihormati, dan disegani dalam suatu masyarakat karena aktivitasnya, kecakapannya dan sifat-sifat tertentu yang dimilikinya.
6.Pengaruh Faktor Situasi Terhadap Perilaku
Jika seseorang mengubah sikap dan prilakunya, maka alasan dibalik semua itu karena semata-mata bersifat individual. Namun, bilamana sebagian orang mengalami perubahan sikap dan perilaku secara bersamaan, maka kemungkinan penyebabnya adalah pengaruh sosial dan budaya terhadap perilaku.
Perilaku seseorang pada suatu situasi tertentu biasanya merupakan akibat dari adanya kebutuhan, tekanan, dan rangsangan dari luar. Misalnya ; seseorang akan berbohong  jika mereka memperoleh kesempatan ketika mereka sedang berbelanja di pasar swalayan. Atau bisa juga diarahakan ke hal yang positive misalnya bila kita menghendaki lingkungan yang bebas dari sampah maka ciptakan situasi yang mendukung dengan menempatkan tempat sampah pada tempat-tempat  yang strategis.

Bahasa sebagai alat pengendali : Bahasa merupakan alat yang digunakan untuk menggambarkan kenyataan, mengubah cara pandang. Misalnya penggunaan istilah “hak tunjangan kesejahteraan” dapat memberikan kesan yang berbeda pada si penerima, dengan memilih bahasa yang tepat penerima merasa bahwa apa yang ia terima bukanlah sekedar belas kasih semata namun itu memang haknya.


2.3.  Penyimpangan sosial
Penyimpangan sosial merupakan setiap perilaku yang dinyatakan sebagai suatu pelanggaran terhadap norma-norma masyarakat atau kelompok.

Ada beberapa model penyimpangan:
1.    Penyimpangan yang diterima dan yang ditolak
     Seorang penyimpang bisa jadi ketika ia sudah meninggal ia justru akan dipuja oleh kelompok masyarakat tertentu (penyimpangan yang diterima), atau seorang penyimpang baik ketika hidup maupun meninggal dunia akan tetap memperoleh hukuman, cacian dan penolakan.
2.    Penyimpangan yang relatif dan yang mutlak
     Hampir semua orang dalam masyarakat kita merupakan penyimpangan pada batas-batas tertentu hanya saja kadar penyimpangannya yang berbeda-beda.
3.    Penyimpangan terhadap budaya nyata atau budaya ideal
     Untuk mengatasi kesenjangan nilai-nilai utama antara budaya ideal diperlukan landasan dasar normative ysng berupa budaya ideal atau budaya nyata yang dipegang secara tagas atau tersirat.
4.    Norma-norma penghindaran.
     Norma-Norma penghindaran merupakan pola perbuatan yang dilakukan orang untuk memenuhi keinginan mereka tanpa harus menentang nilai-nilai tata kelakuan secara terbuka. Contoh ; berlangganan minuman keras dari seorang pembuat minuman keras. Jika perbuatan itu merupakan cara yang diakui oleh kelompok untuk memperoleh minuman keras yang dilarang. Dalam proses pemberian sangsi kelompokitulah terjadi penipisan celaan moral terhadap perbuatan penghindaran tersebut.
5.    Penyimpangan bersifat adaptif(menyesuaikan)
     Perilaku menyimpang merupakan salah satu cara untuk menyesuaikan kebudayaan dengan perubahan social. Perilaku menyimpang yang terjadi pada bebrapa individu bisa jadi merupakan awal dari norma baru. Misalnya punahnya keluarga patriarchal, dimana otoritas lelaki sebagai suami kian melemah.

a.    Teori penyimpangan
1.    Teori Biologi
Penyimpanagn terjadi disebabkan oleh adanya cacat fisik dan cacat mental yang parah sehingga tidak dapat menerapkan segenap perilaku yang diharapkan.
2.    Teori Psikologi
Perilaku menyimpang sering kali dianggap sebagai salah satu gejala penyakit mental.
3.    Teori Sosiologi
Perilaku social dikendalikan oleh nilai dan norma-norma yang dihayati. Penyimpangan disebabkan oleh gangguan dalam proses penghayatan dan pengalaman nilai dan norma.
4.    Teori Anomi
Menyatakan bahwa masyarakat kompleks cenderung menjadi masyarakat tanpa norma.
Ada beberapa Teori Konflik yang terdapat dalam suatu penyimpangan, yaitu:
A.Teori Konflik Budaya
    Menilai bahwa penyimpangan diawali oleh adanya pertentangan norma antar berbagai
Kebudayaan.
B.Teori Konflik Antar Kelas Sosial
    Penyimpangan bermula dari adanya perbenturan kepentingan antara kelas-kelas sosial yang berbeda.
C.Teori Pengendalian
     Menghubungkan penyimpangan dengan lemahnya ikatan terhadap lembaga-lembaga dasar masyarakat. Teori ini memandang norma yang dihayati dan pemberian hukuman yang sistematis sebagai alat kendali yang bermanfaat.
§  Jenis-Jenis Penyimpangan Sosial/Perilaku Menyimpang
a. Jenis-Jenis Penyimpangan Sosial Berdasarkan Kekerapananya

 1.Penyimpangan Sosial Primer: Pengertian penyimpangan sosial primer adalah penyimpangan yang bersifat sementara (temporer). Orang yang melakukannya masih tetap dapat diterima oleh kelompok sosialnya karena tidak terus menerus melanggar aturan. Seperti biasanya melanggar rambu lalu lintas atau pernah meminum minuman keras di suatu pesta. 
2.Penyimapangan Sosial Sekunder: Pengertian penyimpangan sosial sekunder adalah penyimpangan sosial yang dilakukan oleh pelakunya secara terus menerus walaupuntelah diberikan sanksi-sanksi. Oleh karena itu, setiap pelaku secara umum dikenal sebagai orang yang berperilaku menyimpang. Seperti, seseorang yang setiap hari minum minuman keras, siswa SMA/MA yang terus menyontek teman kelasnya. 
§  Jenis-Jenis Penyimpangan Sosial Berdasarkan Jumlah Orang Yang Terlibat
1.Penyimpangan Individu: Pengertian penyimpangan individu adalah penyimpangan yang dilakukan sendiri tanpa dengan orang lain. Hanya satu individu saja yang melakukan belawanan dengan norma-norma yang berlaku. 
2.Penyimpangan Kelompok: Pengertian penyimpangan kelompok adalah penyimpangan yang terjadi jika individu perilaku menyimpang tersebut dilakukan secara bersama-sama di suatu kelompok tertentu. 
§  Jenis-Jenis Penyimpangan Sosial Berdasarkan Sifatnya
1.Penyimpangan Bersifat Negatif: Pengertian penyimpangan bersifat negatif adalah penyimpangan sosial yang berwujud dari tindakan ke arah nilai-nilai sosial yang dianggap rendah dan tercela karena tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku. 

2.Penyimpangan Bersifat Positif: Pengertian penyimpangan bersifat positif adalah penyimpangan sosial yang memiliki dampak positif terhadap sistem sosial karena dianggap ideal dalam masyarakat. 
Faktor-Faktor Penyebab Perilaku Menyimpang
  • Faktor Internal: Penyebab perilaku menyimpang dalam faktor internal adalah intelegensi atau tingkat kecerdasan, usia, jenis kelamin dan kedudukan seseorang dalam keluarga. Contohnya: seseorang ang tidak normal dan pertambahan usia
  • Faktor Eksternal: Penyebab perilaku menyimpang dalam faktor eksternal adalah kehidupan rumah tangga, atau keluarga, pendidikan di sekolah, pergaulan dan media massa. Contohnya: seorang anak yang biasa melihat orang tuanya bertengkar dapat melarikan diri pada obat-obatan, atau narkoba. Pergaulan individu yang berhubungan dengan teman-temannya, media massa, media cetak, media eletkronik. 
§  Pencegahan Penyimpangan Sosial

Pencegahan dalam terjadi perilaku penyimpangan sosial dilakukan seseorang agar tidak beradadalam penyimpangan sosial yang lebih merugikan atau bersifat negatif. Faktor-faktor pencegahan dalam perilaku penyimpangan sosial adalah sebagai berikut..
-Faktor Keluarga: Pencegahan penyimpangan sosial dalam faktor keluarga adalah merupakan awal dari proses sosialisasi dalam pembentukan kepribadian seseorang. Kepribadian seseorang mulai terbentuk dengan baik jika lahir dan tumbuh berkembang dengan lingkungan keluarga yang baik, begitu juga dengan sebaliknya. 
-Faktor Sekolah: Pencegahan penyimpangan sosial dalam faktor sekolah adalah tempat menimba ilmu yang memberikan pendidikan moral selain dari pendidikan umum. 
-Faktor Lingkungan dan Teman: Pencegahan penyimpangan sosial dalam faktor lingkungan dan teman adalah tempat yang sangat mempengaruhi watak seseorang karna dalam pergaulan seseorang dituntut agar dapat berdaptasi/menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat tinggal dan temannya. 
Faktor Media Massa: Pencegahan penyimpangan sosial dalam faktor media massa adalah suatu wadah sosialisasi yang mempengaruhi kehidupan seseorang.

BAB III 
PENUTUP
KESIMPULAN


 Setelah kami merangkum hasil diskusi, perlu kita ketahui bahwa pengendalian sosial itu memang berperan penting bagi penerus bangsa agar negara kita dapat menjadi negara maju. Dan kita juga telah memahami apa itu pengendalian sosial baik itu menurut para ahli maupun secara umum, ciri-ciri pengendalian sosial, tujuan / fungsi pengendalian sosial, macam-macam pengendalian sosial, bentuk bentuk pengendalian sosial serta lembaga pengendalian sosial.