MAKALAH
SOSIOLOGI
KETERTIBAN SOSIAL
DAN
PENGENDALIAN SOSIAL
Dosen
Yanto Heriyanto S.SOS M.Si.
Disusun
Oleh
KELOMPOK 2
|
Canisia Sri Kurniawati 118090116
Nur Adiyaati Pratiwi 119080123
|
Sanyla Alex Sandra 118090132
Chandra Alimjo 118090154
|
Kelas : Administrasi Negara 1 – F
Fakultas
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas
Swadaya Gunung Jati Cirebon
Tahun
Ajaran
2018
– 2019
KATA
PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur kami
panjatkan kehadirat Allah SWT, karena hanya dengan berkat-Nya kami dapat
menyelesaikan makalah tugas sosiologi tentang “ KETERTIBAN SOSIAL DAN
PENGANDILAN SOSIAL”
Tak lupa shalawat serta salam semoga
dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW Keluarganya para
sahabatnya dan umatnya yang senantiasa selalu istiqomah sampai akhir zaman.
Kami mengucapkan terimakasih kepada Bpk. Yanto Heryanto S.SOS M.Si selaku dosen
Sosiologi dan Kebudayaan Cirebon. Kami juga mengucapkan terimakasih kepada
seluruh pihak yang telah memberikan mendukung atas terselesaikannya tugas
makalah ini.
Kami menyusun makalah ini dengan
sungguh-sungguh dan semampu kami.
Kami berharap dengan adanya makalah ini
bisa menjadi pembelajaran yang bisa dipahami dan bisa menjadi ilmu yang
bermanfaat untuk siapapun yang membacanya. Makalah ini dibuat sebagai salah
satu tugas sosiologi dimana sebagai pengetahuan mengenai ketertiban sosial yang
bisa kita ketahui dan pengendalian sosial atau penyimpangan yang terjadi di
sekitar lingkup sekitar kita. Akhir kata, manusia tidak ada yang sempurna,
begitu pula dengan makalah ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu kami
membutuhkan saran dan kritik yang membangun untuk koreksi makalah ini dan
sebagai pembelajaran untuk pembuatan makalah selanjutnya.
Terimakasih, wassalamualaikum wr.wb
Daftar
isi
Halaman
Judul
Kata pengantar.................................................................................................................... i
Kata pengantar.................................................................................................................... i
Daftar
isi............................................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang............................................................................................................ 1
1.2 Rumusan
Masalah....................................................................................................... 2
1.3 Tujuan ......................................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1KETERTIBAN
SOSIAL.............................................................................................. 3
2.2PENGENDALIAN
SOSIAL........................................................................................ 6
A.
Tujuan Pengendalian Sosial...........................................................................................
B.Pola
Pengendalian Sosial.................................................................................................
C.
Fungsi Pengendalian Sosial............................................................................................
D.Sifat
-Sifat Pengendalian Sosial......................................................................................
E.Jenis-Jenis
Pengendalian Sosial.......................................................................................
2.3PENYIMPANGAN
SOSIAL..................................................................................... 21
BAB III PENUTUP
Kesimpulan...................................................................................................................... 25
DAFTAR
PUSTAKA..................................................................................................... 26
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar
belakang
Sosialisasi
adalah sebuah proes penenaman atau transfer kebiasaan atau nilai dan aturan
dari satu generasi ke genarasi lainya dalam sebuah kelompok atau masyarakat.
Sejumlah sosilog menyebut sosialisasi sebagai teori mengenai peranan (role
theory). Karena dalam proses sosialisasi diajarkan peran-peran yang harus
dijalankan oleh individu. Namun pada realita saat ini tidak sedikit para pelaku
sosial yang telah menyimpang dari aturan norma sosial di setiap letaknya. Maka
kali ini saya sebagai pemakalah akan membahas mengenai ketertiban, kontrol, dan
penyimpangan sosial serta di ikuti dengan contoh kasusnya.
Pengendalian
sosial adalah suatu mekanisme untuk mencegah penyimpangan sosial serta mengajak
dan mengarahkan masyarakat untuk berperilaku dan bersikap sesuai norma dan
nilai yang berlaku. Dengan adanya pengendalian sosial yang baik diharapkan
mampu meluruskan anggota masyarakat yang berperilaku menyimpang/membangkang.
Telah dijelaskan bahwa pengendalian
sosial terjadi karena adanya perilaku yang menyimpang. Jadi, pengendalian
sosial sangat berperan penting bagi kehidupan kita masing-masing. Oleh karena
itu, pengendalian sosial pun memiliki fungsi dan tujuan. Sebagai pelajar
ataupun masyarakat publik juga dapat memahami ciri-ciri pengendalian
sosial,macam-macam,bentuk-bentuk, serta lembaga pengendalian sosial.
Jika tak ada penerapan pengendalian
sosial bagi pelajar maupun masyarakat publik tentunya negara kita cenderung
drastis meningkatkan perilaku yang menyimpang yang bersifat negatif. Dari sisi
negatif tersebut itulah yang akan membuat generasi penerus banga rusak atau
tidak stabil karena perilaku yang menyimpang tersebut. Jadi kita harus memahami
pengendalian sosial.
1.2 Rumusan
masalah
1. Apa
yang dimaksud dengan ketertiban sosial?
2. Apa
yang dimaksud pengendalian sosial?
3. Apa
sajakah penyimpangan sosial ?
1.3 Tujuan
1. Untuk
mengetahui maksud dari ketertiban sosial
2. Untuk
mengetahui maksud dari pengendalian sosial
3. Untuk
memahami apa saja penyimpangan sosial
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 KETERTIBAN SOSIAL
Ketertiban sosial (social order)
tercipta bilamana kegiatan biasa orang berlangsung dengan menyenangkan dan
dapat di ramalkan pada masyarakat sederhana, sosialisasi menciptakan ketertiban
sosial dengan cara mempersiapkan orang agar bersedia berperilaku sebagaimana
yang diharapkan, dan tekanan sosial (social preassure) memberikan imbalan
berupa penerimaan dan pengakuan bilamana orang yang berperilaku seperti yang
diharapkan.
Ketertiban sosial adalah Sistem kemasyarakatan,
hubungan,dan kebiasaan yang berlangsung secara lancar demi mencapai sasaran
masyarakat . Jika orang tidak menyadari apa yang bisa mereka harapkan dari
orang lain, maka apa yang diperoleh berupa sedikit. Ketertiban masyarakat
tergantung dari jaringan peran dimana setiap orang melakukan setiap kewajiban
dan menerima haknya.
Terdapat
empat unsur keteraturan sosial. Terpenuhinya keempat unsur tersebut berarti
terciptanya keteraturan dalam masyarakat. Berikut empat poin dan contohnya:
Unsur-unsur ketertiban sosial
1. Tertib
sosial
Tertib sosial adalah keadaan masyarakat dengan
kehidupan tertib dan teratur sebagai hasil dari interaksi sosial yang berjalan
harmonis. Sebagai contoh, seorang pendatang melapor kepada ketua RT setempat
sebelum keliling kampung meminta sumbangan pembangunan masjid. Seorang
pengendara mematikan motor ketika masuk gang kecil saat jam belajar masyarakat.
Ciri-ciri
terciptanya tertib social antara lain:
-
Terjadi suatu sistem dan
norma yang jelas
-
Masing-masing individu
mengetahui dan memahami norma dan nilai yang berlaku
-
Masing-masing individu
dapat menyesuaikan tindakannya dengan norma dan nilai sosial yang berlaku.
Contoh: Tertib di jalan raya
setiap pengendara memahami dan menyesuaikan tindakannya dengan norma dan nilai
yang berlaku di jalan raya.
2. Order
Order adalah sistem nilai dan norma yang berlaku dan
dipatuhi oleh seluruh anggota masyarakat. Sebagai contoh, masyarakat desa yang
melakukan kerja bakti membersihkan got atau selokan di kampungnya. Contoh lain,
warga kampung yang bergotong royong mengecat gapura dalam perayaan 17-an.
3. Keajegan
Keajegan adalah keteraturan sosial yang reguler atau
rutin sebagai hasil dari interaksi sosial yang mengalami pelembagaan. Sebagai
contoh, seorang anak yang rutin pergi ke sekolah untuk belajar. Seorang pegawai
yang rutin pergi ke kantor untuk melayani masyarakat. Sekolah adalah lembaga
pendidikan dan kantor pegawai adalah lembaga pemerintahan.
4. Pola
Pola adalah corak hubungan sosial yang tetap dalam
kehidupan masyarakat. Sebagai contoh, santri yang cium tangan ketika bertemu
kyai. Meski tidak di pesantren, saat bertemu kyai-nya, para santri cium tangan
sebagai penghormatan kepadanya. Corak tersebut merupakan pola hubungan antara
kyai dan santri.
Apabila keempat unsur tersebut berjalan secara
berkesinambungan, maka akan tercipta ketertiban sosial. Memahami unsur-unsur
yang sudah disebutkan di atas dapat membantu kita menjelaskan apa itu
ketertiban sosial serta contohnya di masyarakat.
Kesimpulannya :
1. Keteraturan
sosial merupakan kondisi dinamis dari suatu masyarakat, di mana sendi-sendi kehidupan
bermasyarakat berjalan secara tertib dan teratur sehingga tujuan kehidupan
bermasyarakat dapat dicapai secara berdaya guna dan berhasil guna.
2. Kondisi dinamis adalah suatu kondisi
masyarakat yang sedemikian rupa tertib dan teraturnya, sehingga mampu menangkal
segala bentuk ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan (ATHG), baik yang
berasal dari dalam maupun dari luar lingkungan masyarakatnya.
3. Kondisi
dinamis terwujud sebagai akibat adanya suatu sistem pengendalian sosiai atau
kontrol sosial yang didasari oleh seperangkat sistem nilai dan norma sosial
yang disepakati dan ditaati oleh seluruh anggota masyarakat secara konsekuen.
Faktor-faktor yang mendorong dan menghambat pola keteraturan sosial
1. Faktor Pendorong
1. Faktor Pendorong
a. Kerja Sama
b. Akomodasi
b. Akomodasi
2. Faktor Penghambat
a. Persaingan
b. Kontravensi
c. Konflik
b. Kontravensi
c. Konflik
2.2 PENGENDALIAN SOSIAL
Para ahli sosiolog menggunakan istilah “Pengendalian
Sosial (pengawasan sosial)” yaitu segenap cara dan proses yang ditempuh
oleh sekelompok orang atau masyarakat sehingga para anggotanya dapat
bertindak sesuai dengan yang harapan kelompok atau masyarakat tersebut.
Perlu diketahui bahwa setiap masyarakat menginginkan
kehidupan yang tentram, damai, dan teratur. Dengan itulah masyarakat perlu
suatu sistem untuk mengatur semua perilaku yang menjadi tujuan tersebut. Dalam
hal ini, masyarakat perlu ada pengendalian sosial. Sebelum berbicara jauh
tentang pengendalian sosial, alangkah baiknya kita paparkan pengertian
pengendalian sosial secara sekilas. Pengendalian sosial sering diartikan
sebagai proses pengawasan dari suatu kelompok terhadap kelompok lain dan
mengajarkan, membujuk, atau memaksa individu maupun kelompok sebagai bagian
dari masyarakat untuk berperilaku sesuai dengan harapan masyarakat.
Berikut pengertian pengendalian sosial menurut para
ahli, antara lain :
1.
Peter L Berger
Pengendalian sosial adalah berbagai cara yang digunakan masyarakat untuk
menertibkan anggotanya yang menyimpang
2.
Joseph Stabey Roucek
Pengendalian sosial adalah suatu istilah kolektif yang mengacu pada proses
terencana yang didalamnya individu diajarkan, dibujuk, ataupun dipaksa untuk
menyesuaikan diri pada kebiasaan dan nilai hidup kelompok.
3.
Horton dan Hunt
Pengendalian sosial adalah segenap cara dan proses yang ditempuh oleh sekelompok
orang tua atau masyarakat sehingga para anggotanya dapat bertindak sesuai
harapan kelompok atau masyarakat.
4.
Bruce J Cohen
Pengendalian sosial adalah cara-cara atau metode yang
digunakan untuk mendorong seseorang agar berperilaku selaras dengan
kehendak-kehendak kelompok atau masyarakat tertentu.
A.Tujuan Pengendalian Sosial
Sangat perlu
diketahui bahwa pengendalian sosial memiliki beberapa, antara lain sebagai
berikut:
1. Agar masyarakat
mematuhi nilai dan norma sosial yang berlaku.
Pengendalian sosial diciptakan oleh
masyarakat menitikberatkan pada orang yang melakukan penyimpangan terhadap
nilai dan norma sehingga memaksa pelaku penyimpangan untuk patuh terhadap nilai
dan norma yang berlaku dalam masyarakat.
2. Agar tercipta
keserasian dan kenyamanan dalam masyarakat.
Pengendalian sosial juga mampu
menciptakan situasi yang tentram dalam masyarakat apabila pengendalian
sosialnya benar-benar dijalankan. Dengan adanya pengendalian sosial, biasanya
pelaku penyimpangan sosial akan jera bahkan takut akan berbuat sesuatu yang
tidak diinginkan oleh masyarakat.
3. Agar pelaku
penyimpangan kembali mematuhi norma yang berlaku.
Adanya pengendalian sosial dalam
masyarakat diharapkan masyarakat mampu menjalankan seluruh nilai dan norma yang
tertulis maupun tidak tertulis. Apabila terdapat penyimpangan terhadap nilai
dan norma maka akan diberi sanksi. Contohnya, ketika sesorang telah melanggar
aturan yang berlaku, ia diberi sanksi (pengendalian sosial) agar kedepannya ia
tidak akan mengulangi atau akan taat pada aturan yang ada.
4.Untuk menjaga ketertiban
sosial.
Pengendalian sosial memiliki
tujuan agar dapat menjaga ketertiban sosial yang ada di dalam lingkungan
masyarakat. Bila nilai serta norma sosial tersebut dijalankan oleh semua
anggota masyarakat, maka tentu saja akan tercipta dan terpelihara ketertiban
sosial di dalam masyarakat. Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk bisa
menanamkan nilai serta norma sosial di dalam masyarakat dengan melalui
lembaga-lembaga pendidikan dan lingkungan keluarga. Melalui hal tersebut tentu
saja anak-anak akan diarahkan agar dapat meyakini nilai-nilai serta norma
sosial yang berlaku di masyarakat.
Dengan adanya pengendalian sosial di dalam masyarakat, maka seseorang
ataupun kelompok akan mulai berpikir bahayanya jika melakukan hal-hal yang
menyimpang dari norma dan nilai sosial. Sehingga masyarakat akan berusaha untuk
menghindari perilaku menyimpang karena akan adanya sanksi sanksi sosial yang
bisa didapatkannya. Hal ini lah yang kemudian mencegah banyaknya kasus perilaku
menyimpang dari nilai dan norma sosial di lingkungan masyarakat.
B.
Pola Pengendalian Sosial
Dalam
masyarakat terdapat empat pola pengendalian sosial, yaitu pengendalian kelompok
terhadap kelompok, pengendalian kelompok terhadap anggota-anggotanya, dan
pengendalian individu terhadap individu lainnya dan pengendalian individu
terhadap kelompok
1. Pengendalian
kelompok terhadap kelompok
Pengendalian
ini terjadi apabila suatu kelompok mengawasi perilaku kelompok lain, misalnya
BNN mengawasi kelompok pengguna narkoba.
2. Pengendalian
kelompok terhadap anggota-anggotanya
Pengendalian
ini terjadi apabila suatu kelompok menentukan perilaku anggota-anggotanya,
misalnya suatu sekolah yang mencatat siswa-siswanya yang telah melanggar aturan
sekolah.
3. Pengendalian
individu terhadap kelompok
Pengendalian
ini terjadi apabila seseorang menginginkan kelompok tersebut sesuai dengan
keinginannya maupun masyarakat. Misalnya Wali kelas yang mengawasi anak
didiknya setiap hari.
4. Pengendalian
individu terhadap individu lainnya
Pengendalian
ini terjadi apabila individu melakukan pengawasan terhadap individu lain,
misalnya ayah mengawasi anaknya.
c.
Fungsi Pengendalian Sosial
Para pelaku penyimpangan selalu bertanya, buat apa
diciptakan pengendalian sosial? karena bagi mereka hal ini hanya membuat mereka
terkekang untuk melakukan tindakan pelanggaran terhadap nilai dan norma. Untuk
itu, perlu dikatahui bahwa terdapat beberapa fungsi diantaranyaa :
1.Mempertebal
keyakinan masyarakat tentang kebaikan norma
Mempertebal keyakinan dapat ditempuh melalui pendidikan,
sugesti sosial, menonjolkan kelebihan-kelebihan norma tertentu dibandingkan
dengan norma masyarakat lain, serta peran agama. Usaha ini dapat ditempuh melalui pendidikan baik
formal maupun non formal. Melalui pendidikan formal ditanamkan kepada peserta
didik kesadaran untuk patuh aturan, sadar hukum dan sebagainya melalui mata
pelajaran-mata pelajaran yang ada. Melalui pendidikan non formal, media massa
dan alat-alat komunikasi menyadarkan warga masyarakat untuk beretika, tertib
berlalu lintas, dan sebagainya. Hal ini dapat juga dilakukan dengan cara
memengaruhi alam pikiran seseorang dengan legenda, hikayat-hikayat, cerita-cerita
rakyat maupun cerita-cerita agama yang memiliki nilai-nilai terpuji, contohnya
cerita Malin Kundang, cerita Nabi Sulaiman, dan sebagainya.
2.Memberikan
imbalan kepada warga yang menaati normaHal ini bertujuan menumbuhkan semangat
dalam diri orang-orang yang berbuat baik agar mereka tetap melakukan perbuatan
baik dan menjadi contoh bagi warga yang lain.
3.Mengembangkan
rasa malu
Seseorang yang
melakukan kesalahan dengan melanggar norma sosial biasanya akan mengalamipenurunan
harga diri di mata warga. Sifat demikian menimbulkan kesadaran dalam diri
seseorang bahwa perbuatannya akan mendatangkan malu.
D. Sifat Pengandalian Sosial
Ada dua
macam sifat pengendalian sosial yakni :
1. Bersifat
Preventif
Pengendalian bersifat preventif
adalah tindakan yang dilakukan untuk mencegah (pencegahan) terhadap
kemungkinan terjadinya pelanggaran-pelanggaran terhadap norma-norma sosial.
Jadi tindakan ini dilakukan sebelum terjadinya penyimpangan. Orang yang
melakukan pengendalian sosial ini adalah orang mengetahui tentang nilai dan
norma, selanjutnya ia sosialisasikan atau bentuk penyuluhan kepada orang yang
belum medapatkan informasi tentang nilai dan norma lama maupun yang baru.
Contoh : guru (waka kesiswaan) menasehati calon siswa baru tentang nilai dan
norma yang berlaku di sekolah tersebut agar kedepannya siswa baru tidak
melanggarnya.
Contoh :
-Polisi lalu lintas mengingatkan pengendara mobil yang menerobos
lampu merah.
-Seorang ibu mengingatkan putrinya agar tidak
pulang larut malam karena berbahaya bagi keselamatannya.
-Guru menegur siswa yang tidak mengerjakan
tugas-tugas kurikuler.
2. Bersifat
Represif
Pengendalian sosial yang bersifat
refresif adalah pengendalian yang bertujuan untuk mengembalikan keserasian yang
pernah terganggu karena terjadinya suatu pelanggaran dengan cara memberikan
sanksi sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan. Pengendalian ini dilakukan
setelah terjadinya penyimpangan agar pelaku tidak lagi mengulangi perbuatannya
dan mentaati nilai dan norma yang berlaku di masyarakat. Contoh : Waka
Kesiswaan (guru) menghukum siswa yang terlambat datang ke sekolah.
E. Jenis-
Jenis Pengendalian Sosial
A. Pengendalian Gabungan
Jenis pengendalian sosial yang
merupakan kombinasi preventif dan represif, pengendalian sosial ini dilakukan
dengan tujuan agar dapat mencegah perilaku penyimpangan terjadi serta sekaligus
memulihkan kondisi agar dapat normal kembali seperti sebelumnya. Misalnya saja,
operasi yustisi yang mana dilakukan kepada seluruh anggota masyarakat, diadakan
penyuluhan kepada masyarakat mengenai pentingnya kepemilikan Kartu Tanda
Penduduk, dan lainnya.
B.Pengendalian Persuasif
Jenis pengendalian sosial yang mana
dilakukan dengan cara ajakan, arahan, himbauan, serta bimbingan kepada seluruh
masyarakat agar dapat melaksanakan hal-hal yang sifatnya positif. Misalnya
adanya himbauan kepada orang-orang yang ada di dalam rumah sakit untuk tidak
merokok. Biasanya hal ini menggunakan kalimat-kalimat dengan notasi halus namun
sifatnya adalah untuk menghimbau.
C.Pengendalian Koersif
Jenis pengendalian sosial yang mana
dilakukan dengan cara ancaman serta kekerasan. Misalnya pengendalian sosial
mengenai pembajakan film-film yang sangat sulit untuk diberantas sehingga
terdapat kalimat-kalimat yang bersifat mengancam di dalam pengendalian koersif
ini semisal “Dilarang keras untuk mengutip, menjiplak, memfotokopi, ataupun
memperbanyak di dalam bentuk apapun, baik itu sebagian ataupun keselutuhan dari
isi film tanpa adanya izin dari pihak penerbit”.
E. Proses Pengendalian Sosial
1. Secara
Persuasif
Pengendalian sosial
secara persuasif dilakukan dengan cara lemah-lembut, membimbing atau mengajak
individu untuk mematuhi atau berperilaku sesuai dengan kaidah-kaidah dalam
masyarakat bukan dengan cara kekerasan. Dengan kata lain,
ketika seseorang telah melakukan penyimpangan maka sanksi yang diberikan adalah
dengan rehabilitasi, dinasehati, atau diajak untuk melakukan yang bermanfaat.
Akan tetapi tidak semua penyimpangan mampu diselesaikan dengan cara ini, karena
setiap penyimpangan memiliki cara tersendiri untuk membuat pelaku akan kembali
ke nilai dan norma yang berlaku.
2. Secara Koersif
Ada kalanya pengendalian sosial
dengan cara koersif, artinya pengendalian sosial secara koersif dilakukan
dengan kekerasan atau paksaan. Karena penyimpangan yang telah berulang-ulang
kali atau yang telah merugikan orang banyak hendaknya dilakukan dengan paksaan.
Pengendalian sosial dengan kekerasan dibedakan menjadi
dua:
1.Kompulsi (paksaan), artinya keadaan yang sengaja
diciptakan sehingga seseorang terpaksa menuruti atau mengubah sifatnya dan
menghasilkan suatu kepatuhan yang sifatnya tidak langsung. Contoh:
diberlakukannya sanksi skorsing bagi siswa yang banyak melanggar aturan
sekolah.
2.Pervasi (pengisian), secara pengertian pervasi
merupakan cara penanaman atau pengenalan norma secara berulang-ulang sehingga
orang akan mengubah sikapnya sesuai dengan yang diinginkan. Contoh: pecandu
narkoba dipaksa untuk berhenti dan diberi penyuluhan berulang-ulang tentang
bahaya narkoba.
F.Cara-cara Pengendalian Sosial
Secara umum
pengendalian sosial dapat dibedakan dengan dua cara yaitu :
1.Pengendalian Sosial secara Formal
:
-Pengendalian
sosial melalui hukuman fisik
Pengendalian
sosial cara ini dilakukan oleh lembaga-lembaga resmi atau yang diakui
keberadaannya. Contohnya penembakan pelaku teroris yang menyerang aparat
kepolisian.
-Pengendalian
sosial melalui lembaga pendidikan
Pendidikan
merupakan pengendalian sosial secara terencana dan berkesinambungan agar
terjadi perubahan-perubahan positif dalam perilaku seseorang. Dengan hal itu,
diharapkan perilaku tersebut tidak menyimpang dari norma-norma dan nilai-nilai
sosial yang berlaku di masyarakat.
-Pengendalian
sosial melalui ajaran agama
Setiap
pemeluk agama akan berusaha sedapat mungkin menjalankan ajaran agamanya
tersebut dalam tingkah lakunya sehari-hari. Ajaran agama mempunyai sanksi
mutlak. Hal ini membuat ajaran agama sebagai media pengendalian sosial yang
cukup besar pengaruhnya dalam menjaga stabilitas masyarakat.
2.Pengendalian Sosial secara
Informal :
Sedangkan
pengendalian sosial secara informal dapat dilakukan melalui enam cara :
1.Cemoohan
Cemoohan adalah tindakan membicarakan seseorang dengan
menggunakan kata-kata kiasan, perumpamaan, atau kata-kata yang berlebihan serta
bermakna negatif.
2.Desas-desus (gosip)
Desas-desus adalah berita yang menyebar secara cepat
dan tidak berdasarkan fakta atau bukti-bukti kuat.
3.Ostrasisme (pengucilan)
Ostrasisme adalah suatu tindakan pemutusan hubungan
sosial dari sekelompok orang terhadap seorang anggota masyarakat.
4.Fraundulens
Fraundulens merupakan bentuk pengendalian sosial yang
umumnya terdapa pada anak kecil. Misalnya, A bertengkar dengan B. Jika si A
lebih kecil dari B, maka si A mengancam bahwa dia mempunyai kakak yang berani
yang dapat mengalahkan B.
5.Teguran
Teguran merupakan cara pengendalian sosial melalui
perkataan atau tulisan secara langsung. Teguran dilakukan agar pelaku perilaku
menyimpang segera menyadari kekeliruannya dan memperbaiki dirinya.
6.Intimidasi
Intimidasi merupakan cara pengendalian sosial yang
dilakukan dengan paksaan, biasanya dengan cara mengancam atau menakut-nakuti.
Aparat penegak hukum sering menggunakan cara ini untuk mengorek keterangan dari
orang yang dimintai keterangannya.
F.Cara- Cara Pengendalian Sosial Yang Biasa
Dilakukan Di Masyarakat
1.
Cara Pengendalian sosial melalui sosialisasi
Sosialisasi adalah pengendalian sosial yang dilakukan dengan
menciptakan kebiasaan-kebiasaan , menanamkan norma dan nilai sejak dini. Jika
nilai dan norma sosial sudah menginternal dalamdiri maka individu akan
berperilaku sesuai keinginan masyarakat.
2. Cara
Pengendalian sosial melalui tekanan sosial
Merupakan pengendalian sosial yang dipakai oleh masyarakat
untuk mengendalikan tingkah laku anggota masyarakat agar berperilaku sama
dengan masyarakat dimana individu hidup. Paksaan bisa berupa
ejekan,ditertawakan atau diperbincangkan secara terus menerus. Kebutuhan
manusia akan penerimaan kelompok merupakan alat penunjang yang paling hebat
yang dapat dipakai untuk menerapkan keinginan kelompok demi pengejawantahan
norma-norma kelompok.Anggota baru suatu kelonpok lebih berhati-hati dalam
menyesuaikan diri dan jauh lebih setia daripada anggota lama.
-Pengendalian
kelompok dibedakan sebagai berikut:
a.Pengendalian
kelompok yang informal primer
Kelompok
yang kecil, akrab, dan bersifat informal.Pengendalian dalam kelompok primer
terjadi secara informal, spontan, dan tanpa direncenakan. Kelompok bertanggung
jawab atas perbuatan anggotanya. Cara pemberian sanksi secara kolektif, contoh
; prajurit yang keteledorannya menyebabkan seluruh anggota kelompok tidak dapat
menikmati libur akhir pekan tidak mungkin akan melakukan hal yang sama dan
diperkenankan untuk melupakan perbuatannya.
b.Pengendalian
kelompok sekunder
Kelompok
sekunder pada umumnya lebih besar, lebih impersonal, dan mempunyai tujuan yang
khusus. Kita tidak menggunakan kelompok ini untuk memenuhi kebutuhan kita akan
hubungan yang intim dan manusiawi. Pengendalian social secara formal seperti
peraturan resmi, tata cara yang distandarisasi, propaganda, hubungan
masyarakat, rekayasa manusia, kenaikan golongan, pemberian gelar,imbalan,
hukuman formal dll. Misalnya siswa yang berprestasi akan diberi hadiah oleh
pihak sekolah, atau siswa yang melanggar peraturan akan dikenai hukuman.
G.Jenis-jenis Lembaga Pengendalian Sosial
Perlu diketahui oleh masyarakat bahwa lembaga pengendalian
sosial dalam masyarakat tidak hanya di Kepolisian. Masih banyak lagi lembaga
pengendalian sosial di masyarakat bisa menyelesaikan beberapa masalah
penyimpangan atau pelanggaran baik di lembaga formal maupun non-formal seperti
:
1.Lembaga kepolisian
Polisi merupakan
aparat resmi pemerintah untuk menertibkan keamanan. Tugas-tugas polisi,
antara lain memelihara ketertiban masyarakat, menjaga dan menahan setiap
anggota masyarakat yang dituduh dan dicurigai melakukan kejahatan yang
meresahkan masyarakat, misalnya pencuri, perampok dan pembunuh.
2.Pengadilan
Pengadilan lembaga
resmi yang dibentuk pemerintah untuk menangani perselisihan atau pelanggaran
kaidah di dalam masyarakat. Pengadilan memiliki unsur-unsur yang saling
berhubungan satu sama lain. Unsur-nsur yang saling berhubungan dengan
pengadilan adalah hakim, jaksa dan pengacara. Dalam proses persidangan, jaksa
bertugas menuntut pelaku untuk dijatuhi hukuman sesuai peraturan yanag berlaku.
Hakim bertugas menetapkan dan menjatuhkan putusan berdasarkan data dan keterangan
resmi yang diungkapkan di persidangan. Pengacara atau pembela bertugas
mendampingi pelaku dalam memberikan pembelaan.
3.Tokoh adat
Tokoh adat adalah
pihak yang berperan menegakkan aturan adat. Peranan tokoh adat adalah sangat
penting dalam pengendalian sosial. Tokoh adat berperan dalam membina dan
mengendalikan sikap dan tingkah laku warga masyarakat agar sesuai dengan
ketentuan adat.
4.Tokoh agama
Tokoh agama adalah
orang yang memiliki pemahaman luas tentang agama dan menjalankan pengaruhnya
sesuai dengan pemahaman tersebut. Pengendalian yang dilakukan tokoh agama
terutama ditujukan untuk menentang perbuatan yang tidak sesuai dengan nilai dan
norma agama.
5.Tokoh masyarakat
Tokoh masyarakat
adalah setiap orang yang memiliki pengaruh besar, dihormati, dan disegani dalam
suatu masyarakat karena aktivitasnya, kecakapannya dan sifat-sifat tertentu
yang dimilikinya.
6.Pengaruh Faktor Situasi
Terhadap Perilaku
Jika seseorang
mengubah sikap dan prilakunya, maka alasan dibalik semua itu karena semata-mata
bersifat individual. Namun, bilamana sebagian orang mengalami perubahan sikap
dan perilaku secara bersamaan, maka kemungkinan penyebabnya adalah pengaruh
sosial dan budaya terhadap perilaku.
Perilaku
seseorang pada suatu situasi tertentu biasanya merupakan akibat dari adanya
kebutuhan, tekanan, dan rangsangan dari luar. Misalnya ; seseorang akan
berbohong jika mereka memperoleh
kesempatan ketika mereka sedang berbelanja di pasar swalayan. Atau bisa juga diarahakan
ke hal yang positive misalnya bila kita menghendaki lingkungan yang bebas dari
sampah maka ciptakan situasi yang mendukung dengan menempatkan tempat sampah
pada tempat-tempat yang strategis.
Bahasa sebagai alat pengendali : Bahasa merupakan alat yang
digunakan untuk menggambarkan kenyataan, mengubah cara pandang. Misalnya
penggunaan istilah “hak tunjangan kesejahteraan” dapat memberikan kesan yang
berbeda pada si penerima, dengan memilih bahasa yang tepat penerima merasa
bahwa apa yang ia terima bukanlah sekedar belas kasih semata namun itu memang
haknya.
2.3. Penyimpangan
sosial
Penyimpangan
sosial merupakan setiap perilaku yang dinyatakan sebagai suatu pelanggaran
terhadap norma-norma masyarakat atau kelompok.
Ada beberapa
model penyimpangan:
1. Penyimpangan yang diterima dan
yang ditolak
Seorang penyimpang bisa jadi ketika ia sudah meninggal ia justru akan dipuja
oleh kelompok masyarakat tertentu (penyimpangan yang diterima), atau seorang
penyimpang baik ketika hidup maupun meninggal dunia akan tetap memperoleh
hukuman, cacian dan penolakan.
2. Penyimpangan yang relatif dan
yang mutlak
Hampir semua orang dalam masyarakat kita merupakan penyimpangan pada
batas-batas tertentu hanya saja kadar penyimpangannya yang berbeda-beda.
3. Penyimpangan terhadap budaya
nyata atau budaya ideal
Untuk mengatasi kesenjangan nilai-nilai utama antara budaya ideal diperlukan
landasan dasar normative ysng berupa budaya ideal atau budaya nyata yang
dipegang secara tagas atau tersirat.
4. Norma-norma penghindaran.
Norma-Norma penghindaran merupakan pola perbuatan yang dilakukan orang untuk
memenuhi keinginan mereka tanpa harus menentang nilai-nilai tata kelakuan
secara terbuka. Contoh ; berlangganan minuman keras dari seorang pembuat minuman
keras. Jika perbuatan itu merupakan cara yang diakui oleh kelompok untuk
memperoleh minuman keras yang dilarang. Dalam proses pemberian sangsi
kelompokitulah terjadi penipisan celaan moral terhadap perbuatan penghindaran
tersebut.
5. Penyimpangan bersifat
adaptif(menyesuaikan)
Perilaku menyimpang merupakan salah satu cara untuk menyesuaikan kebudayaan
dengan perubahan social. Perilaku menyimpang yang terjadi pada bebrapa individu
bisa jadi merupakan awal dari norma baru. Misalnya punahnya keluarga patriarchal,
dimana otoritas lelaki sebagai suami kian melemah.
a.
Teori penyimpangan
1. Teori Biologi
Penyimpanagn
terjadi disebabkan oleh adanya cacat fisik dan cacat mental yang parah sehingga
tidak dapat menerapkan segenap perilaku yang diharapkan.
2. Teori Psikologi
Perilaku
menyimpang sering kali dianggap sebagai salah satu gejala penyakit mental.
3. Teori Sosiologi
Perilaku
social dikendalikan oleh nilai dan norma-norma yang dihayati. Penyimpangan
disebabkan oleh gangguan dalam proses penghayatan dan pengalaman nilai dan
norma.
4. Teori Anomi
Menyatakan
bahwa masyarakat kompleks cenderung menjadi masyarakat tanpa norma.
Ada beberapa
Teori Konflik yang terdapat dalam suatu penyimpangan, yaitu:
A.Teori
Konflik Budaya
Menilai
bahwa penyimpangan diawali oleh adanya pertentangan norma antar berbagai
Kebudayaan.
B.Teori
Konflik Antar Kelas Sosial
Penyimpangan
bermula dari adanya perbenturan kepentingan antara kelas-kelas sosial yang
berbeda.
C.Teori
Pengendalian
Menghubungkan
penyimpangan dengan lemahnya ikatan terhadap lembaga-lembaga dasar masyarakat.
Teori ini memandang norma yang dihayati dan pemberian hukuman yang sistematis
sebagai alat kendali yang bermanfaat.
§
Jenis-Jenis Penyimpangan
Sosial/Perilaku Menyimpang
a. Jenis-Jenis Penyimpangan Sosial
Berdasarkan Kekerapananya
1.Penyimpangan
Sosial Primer: Pengertian penyimpangan sosial primer adalah
penyimpangan yang bersifat sementara (temporer). Orang yang melakukannya masih
tetap dapat diterima oleh kelompok sosialnya karena tidak terus menerus
melanggar aturan. Seperti biasanya melanggar rambu lalu lintas atau pernah
meminum minuman keras di suatu pesta.
2.Penyimapangan Sosial
Sekunder: Pengertian
penyimpangan sosial sekunder adalah penyimpangan sosial yang dilakukan oleh
pelakunya secara terus menerus walaupuntelah diberikan sanksi-sanksi. Oleh
karena itu, setiap pelaku secara umum dikenal sebagai orang yang berperilaku
menyimpang. Seperti, seseorang yang setiap hari minum minuman keras, siswa
SMA/MA yang terus menyontek teman kelasnya.
§ Jenis-Jenis
Penyimpangan Sosial Berdasarkan Jumlah Orang Yang Terlibat
1.Penyimpangan Individu: Pengertian penyimpangan individu
adalah penyimpangan yang dilakukan sendiri tanpa dengan orang lain. Hanya satu
individu saja yang melakukan belawanan dengan norma-norma yang berlaku.
2.Penyimpangan Kelompok: Pengertian penyimpangan kelompok
adalah penyimpangan yang terjadi jika individu perilaku menyimpang tersebut
dilakukan secara bersama-sama di suatu kelompok tertentu.
§ Jenis-Jenis Penyimpangan Sosial Berdasarkan Sifatnya
1.Penyimpangan Bersifat
Negatif: Pengertian
penyimpangan bersifat negatif adalah penyimpangan sosial yang berwujud dari
tindakan ke arah nilai-nilai sosial yang dianggap rendah dan tercela karena
tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku.
2.Penyimpangan
Bersifat Positif: Pengertian penyimpangan bersifat positif adalah
penyimpangan sosial yang memiliki dampak positif terhadap sistem sosial karena
dianggap ideal dalam masyarakat.
Faktor-Faktor Penyebab Perilaku
Menyimpang
- Faktor Internal: Penyebab perilaku menyimpang
dalam faktor internal adalah intelegensi atau tingkat kecerdasan, usia,
jenis kelamin dan kedudukan seseorang dalam keluarga. Contohnya: seseorang
ang tidak normal dan pertambahan usia
- Faktor Eksternal: Penyebab perilaku menyimpang
dalam faktor eksternal adalah kehidupan rumah tangga, atau keluarga,
pendidikan di sekolah, pergaulan dan media massa. Contohnya: seorang anak
yang biasa melihat orang tuanya bertengkar dapat melarikan diri pada obat-obatan,
atau narkoba. Pergaulan individu yang berhubungan dengan teman-temannya,
media massa, media cetak, media eletkronik.
§ Pencegahan
Penyimpangan Sosial
Pencegahan dalam terjadi perilaku
penyimpangan sosial dilakukan seseorang agar tidak beradadalam penyimpangan
sosial yang lebih merugikan atau bersifat negatif. Faktor-faktor pencegahan
dalam perilaku penyimpangan sosial adalah sebagai berikut..
-Faktor Keluarga: Pencegahan penyimpangan sosial dalam
faktor keluarga adalah merupakan awal dari proses sosialisasi dalam pembentukan
kepribadian seseorang. Kepribadian seseorang mulai terbentuk dengan baik jika
lahir dan tumbuh berkembang dengan lingkungan keluarga yang baik, begitu juga
dengan sebaliknya.
-Faktor Sekolah: Pencegahan penyimpangan sosial dalam
faktor sekolah adalah tempat menimba ilmu yang memberikan pendidikan moral
selain dari pendidikan umum.
-Faktor Lingkungan dan
Teman: Pencegahan
penyimpangan sosial dalam faktor lingkungan dan teman adalah tempat yang sangat
mempengaruhi watak seseorang karna dalam pergaulan seseorang dituntut agar
dapat berdaptasi/menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat tinggal dan
temannya.
Faktor
Media Massa: Pencegahan
penyimpangan sosial dalam faktor media massa adalah suatu wadah sosialisasi
yang mempengaruhi kehidupan seseorang.
BAB
III
PENUTUP
KESIMPULAN
Setelah kami merangkum hasil diskusi,
perlu kita ketahui bahwa pengendalian sosial itu memang berperan penting bagi
penerus bangsa agar negara kita dapat menjadi negara maju. Dan kita juga telah memahami
apa itu pengendalian sosial baik itu menurut para ahli maupun secara umum,
ciri-ciri pengendalian sosial, tujuan / fungsi pengendalian sosial, macam-macam
pengendalian sosial, bentuk bentuk pengendalian sosial serta lembaga
pengendalian sosial.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar