Kamis, 31 Januari 2019


MAKALAH
 SEJARAH PERKEMBANGAN SOSIOLOGI
DAN KEBUDAYAAN CIREBON”



DOSEN
Pak Yanto Heriyanto S.SOS. M.Si

Disusun Oleh :
Nur Adiyaati Pratiwi
118090123
Administrasi Negara I / F

UNIVESITAS SWADAYA GUNUNG JATI
2018


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah hasil dari review menganai sejarah perkembangan sosiologi dan kebudayaan Cirebon ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih pada Bapak Yanto Heriyanto S.SOS. M.Si selaku Dosen mata kuliah Sosiologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Poilitik di  Unswagati atas tugas yang sudah diberikan kepada saya .

       Saya sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai sejarah perkembangan sosiologi bahkan kebudayaan di Cirebon.
Dan saya menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang akaan saya buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
                       
            Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan mohon kritik sekaligus saran yang membangun dari Anda demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.
Terimakasih,wassalamualaikum wr.wb
DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR ........................................................................................ i
DAFTAR ISI ..................................................................................................... ii
BAB I       PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah ............................................................. 1
B.     Rumusan Masalah........................................................................ 1    
C.     Tujuan Makalah........................................................................... 1
BAB II     PEMBAHASAN............................................................................... 2
A.    SEJARAH PERKEMBANGAN SOSIOLOGI......................... 2
BAB III    PENUTUP ..................................................................................... 11
A.    Kesimpulan ............................................................................... 11
B.     Saran ......................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 12    

 









BAB I

PENDAHULUAN



A.    Latar Belakang

Cirebon adalah suatu daerah yang berada di paling ujung pinggiran pulau Jawa Barat, serta berada di sisi sebelah tetangga pulau Jawa Tengah, lokasi Cirebon ini termasuk wilayah pantura yang ramai jika waktu mudik tiba, dengan dikenal akan wilayah lautnya. Karena keberadaan tersebut, bahasa yang digunakan rata-rata masyarakat Cirebon tidak hanya bahasa Sunda. Melainkan penggunaan dengan multy bahasa, bahasa Sunda, bahasa Jawa, dan bahasa Cirebon sendiri. Dengan keadaan seperti itu, Cirebon kadang dijadikan anak tiri pulaunya, ketidak labilan penggunaan bahasanya menjadi olok-olok canda anak-anak muda yang berasalkan benar-benar asli orang Sunda. Keanekaragaman bahasa itu menjadikan keunikan tersendiri yang dimiliki kota ini, tidak hanya itu dengan menggali lebih dalam kota ini, keanekaragaman bahasanya lebih ragam lagi dengan kebudayaan dan seni yang dimilikinya. Saya sendiri sebagai pendatang di cirebon, baru tahu bahwa cirebon kaya akan seni dan budayanya.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana Sejarah Perkembangan Sosiologi ?
2. Bagaimana Kebudayaan Kebudayaan yang ada di Cirebon?

C. Tujuan Makalah

1. Untuk mengetahui perkembangan sejarah sosiologi
2. Untuk menganalisis kebudayaan kebudayaan Cirebon


A.    SEJARAH PERKEMBANGAN SOSIOLOGI

Sosiologi termasuk ilmu yang paling muda dibandingkan dengan ilmu-ilmu sosial yang ada. Sosiologi juga bersumber dari filsafat. Filsafat merupakan induk dari segala ilmu pengetahuan (mater scientarium) semua ilmu pengetahuan yang kita ketahui selama ini . Filsafat pada masa itu mencakup pula segala usaha pemikiran mengenai masyarakat. Makin berkembangnya zaman dan tumbuhnya peradaban manusia, berbagai ilmu pengetahuan yang semula tergabung dalam filsafat mulai memisahkan diri dan berkembang menurut tujuan masing-masing.
Astronomi (ilmu tentang bintang-bintang) dan Fisika (ilmu alam) merupakan cabang-cabang filsafat yang pertama kali memisahkan diri. Kemudian, diikuti oleh ilmu Kimia, Biologi, dan Geologi. Pada abad ke-19, dua ilmu pengetahuan baru muncul, yaitu Psikologi (ilmu yang mempelajari perilaku dan sifat-sifat manusia) dan Sosilogi (ilmu yang mempelajari masyarakat). Dengan demikian, timbullah sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang di dalam proses pertumbuhannya dapat dipisahkan dari ilmu-ilmu kemasyarakatan lainnya, seperti Ekonomi dan Sejarah.
Pemikiran terhadap masyarakat dan lambat laun mendapat bentuk sebagai suatu ilmu pengetahuan yang dinamakan sosiologi, pertama kali terjadi di Benua Eropa. Banyak usaha dilakukan manusia baik bersifat ilmiah maupun nonilmiah yang membentuk sosiologi sebagai ilmu pengetahuan dan berdiri sendiri. Beberapa faktor pendorong utama munculnya sosiologi adalah meningkatnya perhatian terhadap kesejahteraan masyarakat dan perubahan-perubahan yang terjadi di dalam masyarakat.
Sosiologi di Amerika Serikat dihubungkan dengan usaha-usaha untuk meningkatkan keadaan sosial manusia dan sebagai pendorong untuk menyelesaikan persoalan yang ditimbulkan oleh kejahatan, pelanggaran, pelacuran, pengangguran, kemiskinan, konflik, peperangan, dan masalah sosial lainnya.
Banyak ahli sepakat bahwa faktor yang melatar belakangi kelahiran sosiologi adalah adanya krisis yang terjadi di dalam masyarakat. Laeyendecker, misalnya mengaitkan kelahiran sosiologi dengan serangkaian perubahan di bidang sosial politik. Perubahan berkenaan dengna adanya reformasi Marthin Luther, meningkatnya individualisme, lahirnya ilmu pengetahuan modern, berkembangnya kepercayaan pada diri sendiri, terjadinya Revolusi Industri pada abad ke-18, serta terjadinya Revolusi Prancis.
Pada abad ke-19 seorang filsuf bangsa Prancis bernama Auguste Comte, telah menulis beberapa buku yang berisi pendekatan-pendekatan umum untuk mempelajari masyarakat. Dia berpendapat bahwa ilmu pengetahuan mempunyai urutan-urutan tertentu berdasarkan logika. Setiap penelitian dilakukan melalui tahap-tahap tertentu untuk mencapai tahap akhir, yaitu Ilmiah. Oleh sebab itu, Auguste Comte menyarankan agar semua penelitian terhadap masyarakat ditingkatkan menjadi suatu ilmu tentang masyarakat yang berdiri sendiri. Dari kondisi tersebut, diartikan bahwa sosiologi adalah ilmu pengetahuan kemasyarakatan umum yang merupakan hasil akhir dari perkembangan ilmu pengetahuan. Sosilogi lahir pada saat-saat terakhir perkembangan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, sosiologi didasarkan pada kemajuan-kemajuan yang telah dicapai oleh ilmu pengetahuan lainnya.
Lahirnya sosiologi tercatat pada tahun 1842, tatkala Auguste Comte menerbitkan buku berjudul Positive-philosophy. Beberapa pandangan penting yang dikemukakan oleh Auguste Comte adalah "hukum kemajuan manusia" atau "hukum tiga jenjang", Menurut pandangan ini, sejarah akan melewati tiga jenjang yang mendaki. Ketiga jenjang tersebut adalah :
Setengah abad setelah Herbert Spencer mengembangkan suatu sistematika penelitian masyarakat dalam bukunya yang berjudul Priciples of Sociology, istilah sosiologi menjadi lebih populer. Berkat jasa Herbert Spencer pula, sosiologi akhirnya berkembang dengan pesat. Sosiologi berkembang dengan pesat pada abad ke-20, terutama di Prancis, Jerman, dan Amerika Serikat walaupun arah perkembangannya di ketiga negara tersebut berbeda satu sama lain. Sosilogi kemudian menyebar ke berbagai benua dan negara-negara lain termasuk Indonesia.
Sosiologi di Indonesia sebenarnya telah berkembang sejak zaman dahulu. Walaupun tidak mempelajari sosiologi sebagai ilmu pengetahuan, para pujangga dan tokoh bangsa Indonesia telah banyak memasukkan unsur-unsur sosiologi dalam ajaran-ajaran mereka. Sri Paduga Mangkunegoro IV, misalnya, telah memasukkan unsur tata hubungan manusia pada berbagai golongan yang berbeda (intergroup relation) dalam ajaran Wulang Reh.
Selanjutnya, Ki Hajar Dewantara yang di kenal sebagai peletak dasar pendidikan nasinal Indonesia banyak memperaktekan konsep-konsep penting sosiologi seperti kepemimpinandan kekeluargaan dalam proses pendidikan di Taman Siswa yang didirikannya. Hal yang sama dapat juga kita selidiki dari berbagai karya tentang Indonesia yang di tulis oleh beberapa orang Belanda seperti Snouck Hurgronje dan Van Volenhaven sekitar abad 19. Mereka mengemukakan unsur-unsur sosiologi sebagai kerangka berfikir untuk memahami masyarakat Indonesia. Snouck Hurgronje, misalnya, menggunakan pendekatan sosiologi untuk memahami masyarakat Aceh yang hasilnya di pergunakan oleh pemerintah Belanda untuk menguasai daerah tersebut.
Dari uraian tersebut terlihat bahwa sosiologi di Indonesia pada awalnya, yakni sebelum perang dunia ke II hanya di anggap sebagai ilmu pembantu bagi ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Dengan kata lain, sosiologi belum di anggap cukup penting untuk di pelajari dan di gunakan sebagai ilmu pengetahuan, yang terlepas dari ilmu-ilmu pengetahuan yang lain.
Secara formal, sekolah tinggi hukum (Rechts Shoge School) di jakarta pada waktu itu menjadi satu-satunya lembaga perguruan tinggi yang mengajarkan mata kuliah sosiologi di indonesia walaupun hanya sebagai pelengkap mata kuliah ilmu hukum. Namun, seiring perjalanan waktu, mata kuliah tersebut kemudian di tiadakan dengan alasan bahwa pengetahuan tentang bentuk dan susunan masyarakat beserta proses-proses yang terjadi di dalamnya tidak di perlukan dalam pelajaran hukum. Dalam perdagangan mereka, yang perlu di ketahui adalah perumusan peraturannya dan sistem-sistem untuk menafsirkannya. Sementara, penyebab terjadinya sebuah peraturan dan tujuan sebuah peraturan dianggap tidaklah penting.
Setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, sosiologi di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Adalah Soenaryo Kolopaking yang pertama kali memberikan kuliah sosiologi dalam bahasa Indonesia pada tahun 1948 di akademi ilmu politik Yogyakarta (sekarang menjadi Fakultas ilmu Sosial dan Politik UGM). Akibatnya, sosiologi mulai mendapat tempat dalam insan akademi di Indonesia apalagi setelah semakin terbukanya kesempatan bagi masyarakat Indonesia untuk menuntut ilmu di luar negeri sejak tahun 1950. Banyak para pelajar Indonesia yang khusus memperdalam sosiologi di luar negeri, kemudian mengajarkan ilmu itu di Indonesia.
Buku sosiologi dalam bahasa Indonesia pertama kali di terbitkan oleh Djody Gondokusumo dengan judul Sosiologi Indonesia yang memuat beberapa pengertian mendasar dari sosiologi. kehadiran buku ini mendapatkan sambutan baik dari golongan terpelajar di Indonesia mengingat situasi revolusi yang terjadi saat itu. Buku ini seakan mengobati kehausan mereka akan ilmu yang dapat membantu mereka dalam usaha memahami perubahan-perubahan yang terjadi demikian cepat dalam masyarakat Indonesia saat itu. Selepas itu, muncul buku sosiologi yang di terbitkan oleh Bardosono yang merupakan sebuah diklat kuliah sosiologi .
Selanjutnya bermunculan buku-buku sosiologi baik yang tulis oleh orang Indonesia maupun yang merupakan terjemahan dari bahasa asing. Sebagai contoh, buku Social Changes in Yogyakarta karya Selo Soemardjan yang terbit pada tahun 1962. Tidak kurang pentingnya, tulisan-tulisan tentang masalah-masalah sosiologi yang tersebar di berbagai majalah, koran, dan jurnal. Selain itu, muncul pula Fakultas Ilmu Sosial dan Politik diberbagai Universitas di Indonesia dimana sosiologi mulai di pelajari secara lebih mendalam bahkan pada beberapa Universitas, di dirikan jurusan sosiologi yang di harapkan dapat mempercepat dan memperluas perkembangan sosiologi di Indonesia.


B. KEBUDAYAAN CIREBON

Kota Cirebon adalah salah satu kota yang berada di Provinsi Jawa BaratIndonesia.
Kota ini berada di pesisir utara Pulau Jawa atau yang dikenal dengan jalur pantura yang menghubungkan Jakarta-Cirebon-Semarang-Surabaya.
Pada awalnya Cirebon berasal dari kata sarumban, Cirebon adalah sebuah dukuh kecil yang dibangun oleh Ki Gedeng Tapa. Lama-kelamaan Cirebon berkembang menjadi sebuah desa yang ramai yang kemudian diberi nama Caruban, (carub dalam bahasa Cirebon artinya bersatu padu). Diberi nama demikian karena di sana bercampur para pendatang dari beraneka bangsa diantaranya SundaJawaTionghoa, dan unsur-unsur budaya bangsa Arab), agama, bahasa, dan adat istiadat. kemudian pelafalan kata caruban berubah lagi menjadi carbon dan kemudian cerbon.
Selain karena faktor penamaan tempat penyebutan kata cirebon juga dikarenakan sejak awal mata pecaharian sebagian besar masyarakat adalah nelayan, maka berkembanglah pekerjaan menangkap ikan dan rebon (udang kecil)di sepanjang pantai, serta pembuatan terasi, petis dan garam. Dari istilah air bekas pembuatan terasi atau yang dalam  bahasa Cirebon  disebut  (belendrang) yang terbuat dari sisa pengolahan udang rebon inilah berkembang sebutan cai-rebon (bahasa sunda : air rebon), yang kemudian menjadi Cirebon.
Kota Cirebon terletak di wilayah strategis, yakni titik bertemunya jalur tiga kota besar di Indonesia yakni JakartaBandung, dan Semarang. Semua jenis transportasi itu baik transportasi darat, laut, dan udara saling berintegrasi mendukung pembangunan di kota Cirebon.
Kota Cirebon memiliki dua stasiun kereta api, yakni Stasiun Cirebon Kejaksan dan Stasiun Prujakan. Stasiun Kejaksan berarsitektur khas kolonial Belanda, stasiun ini melayani hampir semua tujuan kota - kota lainnya baik itu kota besar maupun kota kecil di pulau Jawa. Terminal angkutan darat di Kota Cirebon di antaranya terminal besar Harjamukti, letaknya di jalan By Pass Kota Cirebon.
Pelabuhan Cirebon saat ini hanya digunakan untuk pengangkutan batu bara dan kebutuhan pokok dari pulau-pulau lain di Indonesia. Bandar Udara Cakrabuana merupakan bandar udara di Kota Cirebon saat ini hanya dijadikan sebagai bandara khusus sekolah penerbangan dan militer.
Di kota ini masih terdapat Becak khas Cirebon sebagai sarana transportasi rakyat sekaligus sarana untuk wisata keliling kota.
Sebagai salah satu tujuan wisata di Jawa Barat, Kota Cirebon menawarkan banyak pesona mulai dari wisata sejarah tentang kejayaan kerajaan Islam, kisah para wali, Komplek Makam Sunan Gunung Jati di Gunung Sembung sekitar 15 km ke arah barat pusat kota, Masjid Agung Sang Cipta RasaMasjid At Taqwakelentengkuno, dan bangunan-bangunan peninggalan zaman Belanda. Kota ini juga menyediakan bermacam kuliner khas Cirebon, dan terdapat sentra kerajinan rotan serta batik.
Cirebon terdapat keraton sekaligus di dalam kota, yakni Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman. Semuanya memiliki arsitektur gabungan dari elemen kebudayaan Islam, Cina, dan Belanda. Ciri khas bangunan keraton selalu menghadap ke utara dan ada sebuah masjid didekatnya. Setiap keraton mempunyai alun-alun sebagai tempat berkumpul,  pasar  dan  patung  macan  di taman atau halaman depan sebagai perlambang dari Prabu Siliwangi, tokoh sentral terbentuknya  kerajaan Cirebon. Ciri lain adalah  piring  porselen asli  Tiongkok yang jadi penghias dinding. Beberapa piring konon diperoleh dari Eropa saat Cirebon jadi pelabuhan pusat perdagangan Pulau Jawa.
Kota Cirebon memiliki beberapa kawasan taman di antaranya Taman Air Sunyaragi dan Taman Ade Irma Suryani. Taman Air Sunyaragi memiliki  teknologi pengaliran air yang canggih pada masanya, air mengalir di antara teras-teras tempat para putri  raja bersolek, halaman rumput hijau tempat para  ksatria berlatih, ditambah menara dan kamar istimewa yang pintunya terbuat dari  tirai air. Sementara beberapa masakan khas kota ini sebagai bagian dari wisata kuliner antara lain: Sega JamblangSega lengkoEmpal gentongDocangTahu gejrotKerupuk MelaratMendoanSate beber, Mi koclok, Empal asem, Nasi goreng Cirebon, Ketoprak Cirebon, Bubur ayam Cirebon, Kerupuk Udang dan sebagainya.

1. Tari Topeng Cirebon

Tari Topeng Cirebon tentu memiliki keunikan sendiri. Tarian yang identik dengan wilayah Kesultanan Cirebon ini merupakan salah satu jenis kesenian asli daerah tersebut. Kesenian ini dinamakan tari topeng karena memang sang penari akan mengenakan topeng dan disebut dengan Dalang karena memainkan karakter dari topeng-topengnya. Ada banyak sekali ragam dari tarian ini yang tentunya makin menambah kekayaannya.

2. Gembyung

Gemblung juga termasuk peninggalan para wali di Cirebon .Gembyung adalah sebuah pengembangan kesenian terbang yang digunakan Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga sebagai media penyebaran agama Islam di Cirebon. Gembyung ini biasanya dipertontonkan saat melakukan upacara kegiatan agama Islam seperti 1 Syuro, Maulid Nabi, ataupun Rajaban. Dan lokasi diselenggarakannya Gembyung ini biasanya ada di sekitar tempat ibadah.

3. Tari Sintren

Tari Sintren atau Lais ini konon sudah ada sejak zaman dinamisme serta animisme. Tari Sintren juga dulunya disebut-sebut sebagai alat berkomunikasi dengan arwah leluhur. Namun ketika masa perkembangan agama Islam tiba, tarian ini digunakan sebagai media penyebaran ajaran agama Islam karena banyak pesan yang mencerminkan falsafah agama di dalamnya. Tarian ini hanya diperankan oleh seorang perempuan suci bersama pawang yang diiringi gending 6 orang.
4. Sandiwara
Sejak tahun 1945 . Dalam Sandiwara Cirebonan biasanya akan ada beberapa pertunjukan seperti Tari Serimpi dan Tari Bedaya sebelum kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan cerita rakyatnya. Jadi, saat menyaksikan Sandiwara Cirebonan kita sekaligus bisa menikmati keindahan tari-tarian di dalamnya.
5. Genjring Rudat
Kesenian ini konon dulunya hanya berkembang di pesantren. Genjring Rudat awalnya lahir dari semangat perjuangan rakyat dalam melawan penjajah yang dipimpin oleh pangeran Kesultanan Kanoman Cirebon. Bersama dengan para pimpinan pesantren, santri-santri kemudian diajarkan ilmu beladiri yang gerakannya serupa dengan tarian. Jadi jangan heran bila dalam Rudat kita melihat berpadunya gerakan silat, gerakan salat, yang kemudian diiringi lantunan Asma Allah dan Rasulnya.


BAB III

PENUTUP


Sosiologi lahir pada tahun1842 atau pada abad ke-19 yg dirintis oleh auguste comte(1798-1857)dari prancis melalui bukunya course de philoshopy positive.didalam buku tersebut ia menjelaskan bahwa untuk mempelajari masyarakat dilihat dari tahapan-tahapan kehidupannya yaitu; teologis, metafisik, positifistis. Sehingga dapat dikatakan kajian sosiologi adalah segala bentuk kehidupan masyarakat dan tahapan*kehidupannya.
Faktor kesungguhannya dalam mempelajari kehidupan masyarakatlah ia disebut sbgai bapak sosiologi.
Cirebon adalah suatu daerah yang berada di paling ujung pinggiran pulau Jawa Barat, serta berada di sisi sebelah tetangga pulau Jawa Tengah, lokasi Cirebon ini termasuk wilayah pantura yang ramai dengan dikenal akan wilayah lautnya dan panasnya. Karena keberadaan tersebut, bahasa yang digunakan rata-rata masyarakat Cirebon tidak hanya bahasa Sunda.

B.  Saran
Dengan telah tersusunya makalah ini yang berkaitan dengan Sosiologi. Pada dasarnya Sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang masyarakat. Oleh karena itu setiap orang harus mempelajarinya demi terciptanya masyarakat yang mengerti dan paham bagaimana untuk berperan dalam masyarakat.
Alangkah pentingnya melestarikan serta mempertahankan nilai kebudayaan yang ada di Cirebon.





DAFTAR PUSTAKA




http://eprints.uny.ac.id/18597/3/Skripsi%20BAB%20I%2010406241005.pdf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar