MAKALAH
“ SEJARAH
PERKEMBANGAN SOSIOLOGI
DAN KEBUDAYAAN CIREBON”
DOSEN
Pak
Yanto Heriyanto S.SOS. M.Si
Disusun Oleh :
Nur Adiyaati Pratiwi
118090123
Administrasi Negara I / F
UNIVESITAS SWADAYA GUNUNG JATI
2018
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah hasil
dari review menganai sejarah perkembangan sosiologi dan kebudayaan Cirebon ini
dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih
pada Bapak Yanto Heriyanto S.SOS. M.Si selaku Dosen mata kuliah Sosiologi di
Fakultas Ilmu Sosial dan Poilitik di
Unswagati atas tugas yang sudah diberikan kepada saya .
Saya sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai sejarah perkembangan sosiologi bahkan kebudayaan di Cirebon.
Dan
saya menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan
jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan
usulan demi perbaikan makalah yang akaan saya buat di masa yang akan datang,
mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan mohon kritik sekaligus saran yang membangun dari Anda demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.
Terimakasih,wassalamualaikum
wr.wb
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR ........................................................................................ i
DAFTAR ISI ..................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
BAB
III PENUTUP ..................................................................................... 11
A.
Kesimpulan ............................................................................... 11
B.
Saran ......................................................................................... 11
DAFTAR
PUSTAKA....................................................................................... 12
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Cirebon adalah suatu daerah yang berada di paling ujung pinggiran pulau
Jawa Barat, serta berada di sisi sebelah tetangga pulau Jawa Tengah, lokasi
Cirebon ini termasuk wilayah pantura yang ramai jika waktu mudik tiba, dengan
dikenal akan wilayah lautnya. Karena keberadaan tersebut, bahasa yang digunakan
rata-rata masyarakat Cirebon tidak hanya bahasa Sunda. Melainkan penggunaan
dengan multy bahasa, bahasa Sunda, bahasa Jawa, dan bahasa Cirebon sendiri.
Dengan keadaan seperti itu, Cirebon kadang dijadikan anak tiri pulaunya,
ketidak labilan penggunaan bahasanya menjadi olok-olok canda anak-anak muda
yang berasalkan benar-benar asli orang Sunda. Keanekaragaman bahasa itu
menjadikan keunikan tersendiri yang dimiliki kota ini, tidak hanya itu dengan
menggali lebih dalam kota ini, keanekaragaman bahasanya lebih ragam lagi dengan
kebudayaan dan seni yang dimilikinya. Saya sendiri sebagai pendatang di
cirebon, baru tahu bahwa cirebon kaya akan seni dan budayanya.
B. Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
Sejarah Perkembangan Sosiologi ?
2. Bagaimana Kebudayaan Kebudayaan yang ada di
Cirebon?
C. Tujuan Makalah
1. Untuk mengetahui perkembangan sejarah sosiologi
2. Untuk menganalisis kebudayaan kebudayaan
Cirebon
A.
SEJARAH
PERKEMBANGAN SOSIOLOGI
Sosiologi termasuk ilmu yang
paling muda dibandingkan dengan ilmu-ilmu sosial yang ada. Sosiologi juga
bersumber dari filsafat. Filsafat merupakan induk dari segala ilmu
pengetahuan (mater scientarium) semua ilmu pengetahuan
yang kita ketahui selama ini . Filsafat pada masa itu mencakup pula segala
usaha pemikiran mengenai masyarakat. Makin berkembangnya zaman dan tumbuhnya
peradaban manusia, berbagai ilmu pengetahuan yang semula tergabung dalam
filsafat mulai memisahkan diri dan berkembang menurut tujuan masing-masing.
Astronomi (ilmu tentang
bintang-bintang) dan Fisika (ilmu alam) merupakan cabang-cabang filsafat yang
pertama kali memisahkan diri. Kemudian, diikuti oleh ilmu Kimia, Biologi, dan
Geologi. Pada abad ke-19, dua ilmu pengetahuan baru muncul, yaitu Psikologi
(ilmu yang mempelajari perilaku dan sifat-sifat manusia) dan Sosilogi (ilmu
yang mempelajari masyarakat). Dengan demikian, timbullah sosiologi sebagai ilmu
pengetahuan yang di dalam proses pertumbuhannya dapat dipisahkan dari ilmu-ilmu
kemasyarakatan lainnya, seperti Ekonomi dan Sejarah.
Pemikiran terhadap masyarakat
dan lambat laun mendapat bentuk sebagai suatu ilmu pengetahuan yang dinamakan
sosiologi, pertama kali terjadi di Benua Eropa. Banyak usaha dilakukan manusia
baik bersifat ilmiah maupun nonilmiah yang membentuk sosiologi sebagai ilmu
pengetahuan dan berdiri sendiri. Beberapa faktor pendorong utama munculnya
sosiologi adalah meningkatnya perhatian terhadap kesejahteraan masyarakat dan
perubahan-perubahan yang terjadi di dalam masyarakat.
Sosiologi di Amerika Serikat
dihubungkan dengan usaha-usaha untuk meningkatkan keadaan sosial manusia dan
sebagai pendorong untuk menyelesaikan persoalan yang ditimbulkan oleh
kejahatan, pelanggaran, pelacuran, pengangguran, kemiskinan, konflik,
peperangan, dan masalah sosial lainnya.
Banyak ahli sepakat bahwa
faktor yang melatar belakangi kelahiran sosiologi adalah adanya krisis yang
terjadi di dalam masyarakat. Laeyendecker, misalnya mengaitkan kelahiran
sosiologi dengan serangkaian perubahan di bidang sosial politik. Perubahan
berkenaan dengna adanya reformasi Marthin Luther, meningkatnya individualisme,
lahirnya ilmu pengetahuan modern, berkembangnya kepercayaan pada diri sendiri,
terjadinya Revolusi Industri pada abad ke-18, serta terjadinya Revolusi Prancis.
Pada abad ke-19 seorang filsuf
bangsa Prancis bernama Auguste Comte, telah menulis beberapa buku yang berisi
pendekatan-pendekatan umum untuk mempelajari masyarakat. Dia berpendapat bahwa
ilmu pengetahuan mempunyai urutan-urutan tertentu berdasarkan logika. Setiap
penelitian dilakukan melalui tahap-tahap tertentu untuk mencapai tahap akhir,
yaitu Ilmiah. Oleh sebab itu, Auguste Comte menyarankan agar semua penelitian
terhadap masyarakat ditingkatkan menjadi suatu ilmu tentang masyarakat yang
berdiri sendiri. Dari kondisi tersebut, diartikan bahwa sosiologi adalah ilmu
pengetahuan kemasyarakatan umum yang merupakan hasil akhir dari perkembangan
ilmu pengetahuan. Sosilogi lahir pada saat-saat terakhir perkembangan ilmu
pengetahuan. Oleh karena itu, sosiologi didasarkan pada kemajuan-kemajuan yang
telah dicapai oleh ilmu pengetahuan lainnya.
Lahirnya sosiologi tercatat
pada tahun 1842, tatkala Auguste Comte menerbitkan buku berjudul Positive-philosophy. Beberapa pandangan penting yang dikemukakan
oleh Auguste Comte adalah "hukum kemajuan manusia" atau "hukum
tiga jenjang", Menurut pandangan ini, sejarah akan melewati tiga jenjang
yang mendaki. Ketiga jenjang tersebut adalah :
Setengah abad setelah Herbert
Spencer mengembangkan suatu sistematika penelitian masyarakat dalam bukunya
yang berjudul Priciples of Sociology, istilah sosiologi menjadi
lebih populer. Berkat jasa Herbert Spencer pula, sosiologi akhirnya berkembang
dengan pesat. Sosiologi berkembang dengan pesat pada abad ke-20, terutama di
Prancis, Jerman, dan Amerika Serikat walaupun arah perkembangannya di ketiga
negara tersebut berbeda satu sama lain. Sosilogi kemudian menyebar ke berbagai
benua dan negara-negara lain termasuk Indonesia.
Sosiologi di Indonesia sebenarnya telah
berkembang sejak zaman dahulu. Walaupun tidak mempelajari sosiologi sebagai
ilmu pengetahuan, para pujangga dan tokoh bangsa Indonesia telah banyak
memasukkan unsur-unsur sosiologi dalam ajaran-ajaran mereka. Sri Paduga Mangkunegoro
IV, misalnya, telah memasukkan unsur tata hubungan manusia pada berbagai
golongan yang berbeda (intergroup relation) dalam ajaran Wulang Reh.
Selanjutnya, Ki Hajar Dewantara yang di kenal
sebagai peletak dasar pendidikan nasinal Indonesia banyak memperaktekan
konsep-konsep penting sosiologi seperti kepemimpinandan kekeluargaan dalam
proses pendidikan di Taman Siswa yang didirikannya. Hal yang sama dapat juga
kita selidiki dari berbagai karya tentang Indonesia yang di tulis oleh beberapa
orang Belanda seperti Snouck Hurgronje dan Van Volenhaven sekitar abad 19.
Mereka mengemukakan unsur-unsur sosiologi sebagai kerangka berfikir untuk
memahami masyarakat Indonesia. Snouck Hurgronje, misalnya, menggunakan
pendekatan sosiologi untuk memahami masyarakat Aceh yang hasilnya di pergunakan
oleh pemerintah Belanda untuk menguasai daerah tersebut.
Dari uraian tersebut terlihat bahwa sosiologi
di Indonesia pada awalnya, yakni sebelum perang dunia ke II hanya di anggap
sebagai ilmu pembantu bagi ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Dengan kata lain,
sosiologi belum di anggap cukup penting untuk di pelajari dan di gunakan
sebagai ilmu pengetahuan, yang terlepas dari ilmu-ilmu pengetahuan yang lain.
Secara formal, sekolah tinggi hukum (Rechts
Shoge School) di jakarta pada waktu itu menjadi satu-satunya lembaga perguruan
tinggi yang mengajarkan mata kuliah sosiologi di indonesia walaupun hanya
sebagai pelengkap mata kuliah ilmu hukum. Namun, seiring perjalanan waktu, mata
kuliah tersebut kemudian di tiadakan dengan alasan bahwa pengetahuan tentang
bentuk dan susunan masyarakat beserta proses-proses yang terjadi di dalamnya
tidak di perlukan dalam pelajaran hukum. Dalam perdagangan mereka, yang perlu
di ketahui adalah perumusan peraturannya dan sistem-sistem untuk menafsirkannya.
Sementara, penyebab terjadinya sebuah peraturan dan tujuan sebuah peraturan
dianggap tidaklah penting.
Setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus
1945, sosiologi di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup signifikan.
Adalah Soenaryo Kolopaking yang pertama kali memberikan kuliah sosiologi dalam
bahasa Indonesia pada tahun 1948 di akademi ilmu politik Yogyakarta (sekarang
menjadi Fakultas ilmu Sosial dan Politik UGM). Akibatnya, sosiologi mulai
mendapat tempat dalam insan akademi di Indonesia apalagi setelah semakin
terbukanya kesempatan bagi masyarakat Indonesia untuk menuntut ilmu di luar
negeri sejak tahun 1950. Banyak para pelajar Indonesia yang khusus memperdalam
sosiologi di luar negeri, kemudian mengajarkan ilmu itu di Indonesia.
Buku sosiologi dalam bahasa Indonesia pertama
kali di terbitkan oleh Djody Gondokusumo dengan judul Sosiologi
Indonesia yang memuat beberapa pengertian mendasar dari sosiologi.
kehadiran buku ini mendapatkan sambutan baik dari golongan terpelajar di
Indonesia mengingat situasi revolusi yang terjadi saat itu. Buku ini seakan
mengobati kehausan mereka akan ilmu yang dapat membantu mereka dalam usaha
memahami perubahan-perubahan yang terjadi demikian cepat dalam masyarakat
Indonesia saat itu. Selepas itu, muncul buku sosiologi yang di terbitkan oleh
Bardosono yang merupakan sebuah diklat kuliah sosiologi .
Selanjutnya bermunculan buku-buku sosiologi
baik yang tulis oleh orang Indonesia maupun yang merupakan terjemahan dari
bahasa asing. Sebagai contoh, buku Social Changes in Yogyakarta karya
Selo Soemardjan yang terbit pada tahun 1962. Tidak kurang pentingnya,
tulisan-tulisan tentang masalah-masalah sosiologi yang tersebar di berbagai
majalah, koran, dan jurnal. Selain itu, muncul pula Fakultas Ilmu Sosial dan
Politik diberbagai Universitas di Indonesia dimana sosiologi mulai di pelajari
secara lebih mendalam bahkan pada beberapa Universitas, di dirikan jurusan
sosiologi yang di harapkan dapat mempercepat dan memperluas perkembangan
sosiologi di Indonesia.
B. KEBUDAYAAN CIREBON
Kota ini berada di pesisir utara Pulau Jawa atau yang
dikenal dengan jalur pantura yang
menghubungkan Jakarta-Cirebon-Semarang-Surabaya.
Pada awalnya Cirebon berasal dari kata sarumban,
Cirebon adalah sebuah dukuh kecil yang dibangun oleh Ki Gedeng Tapa.
Lama-kelamaan Cirebon berkembang menjadi sebuah desa yang ramai yang kemudian
diberi nama Caruban, (carub
dalam bahasa
Cirebon artinya bersatu padu). Diberi nama demikian karena
di sana bercampur para pendatang dari beraneka bangsa diantaranya Sunda, Jawa, Tionghoa,
dan unsur-unsur budaya bangsa Arab),
agama, bahasa, dan adat istiadat. kemudian pelafalan kata caruban berubah lagi
menjadi carbon dan
kemudian cerbon.
Selain karena faktor penamaan tempat penyebutan
kata cirebon juga
dikarenakan sejak awal mata pecaharian sebagian besar masyarakat adalah
nelayan, maka berkembanglah pekerjaan menangkap ikan dan rebon (udang kecil)di sepanjang pantai,
serta pembuatan terasi, petis dan garam. Dari istilah air bekas pembuatan terasi
atau yang dalam bahasa Cirebon
disebut (belendrang) yang
terbuat dari sisa pengolahan udang rebon inilah berkembang sebutan cai-rebon (bahasa sunda :
air rebon), yang kemudian menjadi Cirebon.
Kota Cirebon terletak di wilayah strategis, yakni titik
bertemunya jalur tiga kota besar di Indonesia yakni Jakarta, Bandung,
dan Semarang.
Semua jenis transportasi itu baik transportasi darat, laut, dan udara saling
berintegrasi mendukung pembangunan di kota Cirebon.
Kota Cirebon memiliki dua stasiun kereta api, yakni Stasiun Cirebon Kejaksan dan Stasiun Prujakan.
Stasiun Kejaksan berarsitektur khas kolonial Belanda, stasiun ini melayani
hampir semua tujuan kota - kota lainnya baik itu kota besar maupun kota kecil
di pulau Jawa. Terminal angkutan darat di Kota Cirebon di antaranya terminal
besar Harjamukti, letaknya di jalan By Pass Kota Cirebon.
Pelabuhan
Cirebon saat ini hanya digunakan untuk pengangkutan batu
bara dan kebutuhan pokok dari pulau-pulau lain di Indonesia. Bandar Udara
Cakrabuana merupakan bandar udara di Kota Cirebon saat ini hanya dijadikan
sebagai bandara khusus sekolah penerbangan dan militer.
Di kota ini masih terdapat Becak khas Cirebon sebagai sarana
transportasi rakyat sekaligus sarana untuk wisata keliling kota.
Sebagai salah satu tujuan wisata
di Jawa Barat, Kota Cirebon menawarkan banyak
pesona mulai dari wisata sejarah tentang kejayaan kerajaan Islam, kisah para wali, Komplek Makam Sunan Gunung Jati di Gunung Sembung sekitar
15 km ke arah barat pusat kota, Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Masjid At Taqwa, kelentengkuno, dan bangunan-bangunan
peninggalan zaman Belanda. Kota ini juga menyediakan bermacam
kuliner khas Cirebon, dan terdapat sentra kerajinan rotan serta batik.
Cirebon terdapat keraton sekaligus di dalam kota,
yakni Keraton
Kasepuhan dan Keraton Kanoman. Semuanya memiliki arsitektur gabungan dari elemen kebudayaan Islam, Cina, dan Belanda. Ciri khas bangunan keraton selalu
menghadap ke utara dan ada sebuah masjid didekatnya. Setiap keraton
mempunyai alun-alun sebagai tempat berkumpul, pasar dan patung macan di taman atau halaman depan sebagai perlambang
dari Prabu
Siliwangi, tokoh
sentral terbentuknya kerajaan Cirebon. Ciri lain adalah piring porselen asli Tiongkok yang jadi penghias dinding. Beberapa piring konon diperoleh
dari Eropa saat Cirebon jadi pelabuhan pusat perdagangan Pulau Jawa.
Kota Cirebon memiliki beberapa kawasan
taman di antaranya Taman
Air Sunyaragi dan Taman
Ade Irma Suryani.
Taman Air Sunyaragi memiliki teknologi pengaliran air yang canggih pada masanya, air mengalir di antara teras-teras
tempat para putri raja bersolek, halaman rumput hijau tempat para ksatria berlatih, ditambah menara dan kamar istimewa yang pintunya terbuat dari tirai air. Sementara beberapa masakan khas kota ini sebagai bagian dari
wisata kuliner antara lain: Sega Jamblang, Sega lengko, Empal gentong, Docang, Tahu gejrot, Kerupuk Melarat, Mendoan, Sate beber, Mi koclok, Empal asem, Nasi goreng Cirebon, Ketoprak Cirebon, Bubur
ayam Cirebon, Kerupuk Udang dan sebagainya.
1. Tari
Topeng Cirebon
Tari
Topeng Cirebon tentu memiliki keunikan sendiri. Tarian yang identik dengan
wilayah Kesultanan Cirebon ini merupakan salah satu jenis kesenian asli daerah
tersebut. Kesenian ini dinamakan tari topeng karena memang sang penari akan
mengenakan topeng dan disebut dengan Dalang karena memainkan karakter dari
topeng-topengnya. Ada banyak sekali ragam dari tarian ini yang tentunya makin
menambah kekayaannya.
2. Gembyung
Gemblung
juga termasuk peninggalan para wali di Cirebon .Gembyung adalah sebuah
pengembangan kesenian terbang yang digunakan Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga
sebagai media penyebaran agama Islam di Cirebon. Gembyung ini biasanya
dipertontonkan saat melakukan upacara kegiatan agama Islam seperti 1 Syuro,
Maulid Nabi, ataupun Rajaban. Dan lokasi diselenggarakannya Gembyung ini
biasanya ada di sekitar tempat ibadah.
3. Tari Sintren
Tari Sintren atau Lais ini
konon sudah ada sejak zaman dinamisme serta animisme. Tari Sintren juga dulunya
disebut-sebut sebagai alat berkomunikasi dengan arwah leluhur. Namun ketika
masa perkembangan agama Islam tiba, tarian ini digunakan sebagai media
penyebaran ajaran agama Islam karena banyak pesan yang mencerminkan falsafah
agama di dalamnya. Tarian ini hanya diperankan oleh seorang perempuan suci
bersama pawang yang diiringi gending 6 orang.
4. Sandiwara
Sejak tahun 1945 . Dalam
Sandiwara Cirebonan biasanya akan ada beberapa pertunjukan seperti Tari Serimpi
dan Tari Bedaya sebelum kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan cerita
rakyatnya. Jadi, saat menyaksikan Sandiwara Cirebonan kita sekaligus bisa
menikmati keindahan tari-tarian di dalamnya.
5. Genjring Rudat
Kesenian ini konon dulunya
hanya berkembang di pesantren. Genjring Rudat awalnya lahir dari semangat
perjuangan rakyat dalam melawan penjajah yang dipimpin oleh pangeran Kesultanan
Kanoman Cirebon. Bersama dengan para pimpinan pesantren, santri-santri kemudian
diajarkan ilmu beladiri yang gerakannya serupa dengan tarian. Jadi jangan heran
bila dalam Rudat kita melihat berpadunya gerakan silat, gerakan salat, yang
kemudian diiringi lantunan Asma Allah dan Rasulnya.
BAB III
PENUTUP
Sosiologi lahir pada tahun1842 atau pada abad
ke-19 yg dirintis oleh auguste comte(1798-1857)dari prancis melalui bukunya
course de philoshopy positive.didalam buku tersebut ia menjelaskan bahwa untuk
mempelajari masyarakat dilihat dari tahapan-tahapan kehidupannya yaitu; teologis,
metafisik, positifistis. Sehingga dapat dikatakan kajian sosiologi adalah
segala bentuk kehidupan masyarakat dan tahapan*kehidupannya.
Faktor kesungguhannya dalam mempelajari
kehidupan masyarakatlah ia disebut sbgai bapak sosiologi.
Cirebon adalah suatu daerah
yang berada di paling ujung pinggiran pulau Jawa Barat, serta berada di sisi
sebelah tetangga pulau Jawa Tengah, lokasi Cirebon ini termasuk wilayah pantura
yang ramai dengan dikenal akan wilayah lautnya dan panasnya. Karena keberadaan
tersebut, bahasa yang digunakan rata-rata masyarakat Cirebon tidak hanya bahasa
Sunda.
Dengan
telah tersusunya makalah ini yang berkaitan dengan Sosiologi. Pada
dasarnya Sosiologi
merupakan ilmu yang mempelajari tentang masyarakat. Oleh karena itu setiap
orang harus mempelajarinya demi terciptanya masyarakat yang mengerti dan paham
bagaimana untuk berperan dalam masyarakat.
Alangkah pentingnya melestarikan serta mempertahankan
nilai kebudayaan yang ada di Cirebon.
DAFTAR PUSTAKA
http://eprints.uny.ac.id/18597/3/Skripsi%20BAB%20I%2010406241005.pdf

Tidak ada komentar:
Posting Komentar